Limbah tahu mengandung gas-gas, yaitu metana (CH4), amonia (NH3), hydrogen sulfide (H2S), dan karbondioksida (CO2). Butuh waktu dan proses agar gas ini dapat dimanfaatkan.
Proses pembuatan tempat pengolahan limbah tahu membutuhkan waktu berminggu-minggu. Dia belajar dari internet tentang pembuatan biogas dan mulai membeli peralatan untuk dirakit.
“Saya merakitnya selama satu bulan dan menghabiskan biaya sekitar Rp30 juta,” tambahnya.
Dalam setiap percobaan tentu ada beberapa proses yang harus dijalani, sama halnya dengan Saeful. Banyak proses yang harus ia jalani dan tidak langsung jadi begitu saja. Keuletan dan semangat pantang menyerah, membawa dirinya pada sebuah keberhasilan.
“Awalnya lumayan susah, tapi dengan terus berusaha, akhirnya berhasil,” kata pria 34 tahun itu.
Instalasi pengolahan limbah miliknya mampu menampung 8.000 liter air limbah tahu. Limbah itu dialirkan ke tangki penampungan yang ada di bawah sedalam tiga meter, yang ditutup dengan beton.
Limbah di fermentasi selama satu hingga dua minggu untuk menghasilkan gas metana. “Paling bagus itu satu bulan, tapi bergantung pemakaiannya juga,” tambahnya.
Setelah gas metana dihasilkan, dia mengalirkannya melalui pipa yang sudah tersambung dengan selang kompor di dapur untuk memasak. Setelah keran gas dibuka, api akan muncul saat dipancing dengan korek.
“Api yang keluar dari kompor memang tidak stabil seperti gas LPG, tapi ketika dipakai untuk memasak, suhu panasnya tidak kalah unggul,” kata Saeful.
Baca Juga: Tiga PLTS Siap Perkuat Sistem Kelistrikan Lombok
Dia juga menjelaskan saat pemakaian hampir tidak mencium aroma apa pun dari gas. Namun, lama kelamaan akan terasa bau gas, tapi tidak terlalu menyengat. Cara ini dirasa tidak berbahaya, meskipun di bawah tanah yang dipijaknya ada gas dengan tekanan tinggi.
Jika gas dalam keadaan lemah atau habis, tangki akan dibuka dan ampasnya akan digunakan untuk pakan ternak. Dia akan membagikan biogas ke tetangga terdekat menggunakan sambungan pipa, sekitar 5 sampai 10 rumah.
Tetangga hanya perlu menyiapkan pipa sambungannya. Menurut Saeful, penggunaan gas hasil pengolahan limbah tahu dapat mengganti pemakaian tabung gas LPG di rumahnya.
“Lumayan, pengeluaran bisa ditekan hingga Rp1 juta, biasanya membutuhkan empat tabung gas ukuran 12 kg selama satu bulan,” ungkap Saeful.
(Fandy)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.