Share

Ketimpangan si Kaya dan si Miskin di Indonesia Turun

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 15 320 2079230 ketimpangan-si-kaya-dan-si-miskin-di-indonesia-turun-GUqGWgawHB.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

 

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, tingkat ketimpangan atau gini ratio yang diukur berdasarkan pengeluaran penduduk Indonesia, kembali mengalami penurunan. Pada Maret 2019 gini ratio tercatat sebesar 0,382, lebih rendah dari posisi September 2018 yang sebesar 0,384.

Begitupula bila dibandingkan dengan Maret 2018 yang sebesar 0,389, turut mengalami penurunan. Dengan demikian, jarak antara penduduk kaya dan miskin semakin mengecil.

Baca Juga: Penyebab Utama Kemiskinan Indonesia: Beras dan Rokok

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, gini ratio di perkotaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,392, naik dibanding gini ratio September 2018 yang sebesar 0,391. Namun, jika dibandingkan dengan Maret 2018 yang sebesar 0,401, maka gini ratio mengalami penurunan.

Sementara, gini ratio di perdesaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,317. Angka itu tersebut mengalami penurunan dibanding gini ratio di September 2018 yang sebesar 0,319 dan Maret 2018 yang sebesar 0,324.

"Gini ratio merupakan ukuran jangka panjang, jadi untuk menurunkannya butuh effort yang luar biasa, dan butuh waktu yang agak panjang. Tapi dari sini bisa dilihat bahwa progres yang ada menggembirakan," kata dia di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (15/7/2019).

Baca Juga: Jumlah Warga Miskin di Indonesia Turun 530.000 Orang

Menurutnya, tingkat ketimpangan Indonesia itu, terbilang rendah jika didasari atas standar yang telah di buat Bank Dunia atau World Bank. Di mana, gini ratio tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40% terbawah angkanya berada di bawah 12%, gini ratio sedang jika angkanya berkisar antara 12%-17%, serta gini ratio rendah jika angkanya berada diatas 17%.

Maka dengan gini ratio sebesar 0,382 di Maret 2019, distribusi pengeluaran pada kelompok 40% terbawah yakni sebesar 17,71%. Artinya, pengeluaran penduduk pada Maret 2019 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

Suhariyanto menyatakan, turunnya ketimpangan disebabkan pertumbuhan pengeluaran 40% lapisan masyarakat terendah sebesar 2,83%, melaju lebih kencang dibandingkan pertumbuhan pengeluaran 40% lapisan menengah yang sebesar 0,71%. Maupun pada pertumbuhan pengeluaran lapisan atas yang hanya sebesar 0,95%

"Sehingga tiga-tiganya naik, tapi kecepatan yang lapisan di bawah lebih tinggi, sehingga jaraknya (ketimpangan) agak menyempit," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini