Sempat Bawa Garuda Go International, Kini Emirsyah Satar di Ujung Tanduk KPK

Rani Hardjanti, Jurnalis · Rabu 07 Agustus 2019 19:32 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 07 320 2089057 sempat-bawa-garuda-go-international-kini-emirsyah-satar-di-ujung-tanduk-kpk-qCw8qvzqJU.jpg Emirsyah Satar (Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Emirsyah Satar sebagai tersangka. Kasus yang melilit Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) periode 2005-2015 itu adalah dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Kasus TPPU yang menyeret Emirsyah adalah program peremajaan pesawat. Emirsyah melakukan beberapa kontrak pembelian dengan empat pabrikan pesawat pada 2008-2013 dengan nilai miliaran dolar AS.

 Baca juga: Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar Resmi Jadi Tersangka Pencucian Uang

Pertama, kontrak pembelian mesin Trent seri 700 dan perawatan mesin (Total Care Program) dengan perusahaan Rolls Royce.

Kedua, kontrak pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus S.A.S.

Ketiga, kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR)

Emirsyah Satar 

Keempat kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.

Ternyata terdapat dugaan suap di balik kontrak tersebut. Hal itu terkuak setelah adanya pengembangan kasus pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia.  

Baca Juga : Emirsyah Satar di Mata Erik Meijer

Jika ditilik ke belakang, Emirsyah Satar merupakan salah satu orang yang merancang transformasi Garuda. Saat menjadi "pilot bisnis" Garuda, Emirsyah Satar memiliki program jangka panjang yang diberi nama Quantum Leap 2011 – 2015.

Koleganya, Erik Meijer yang kala itu menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia pernah mengucap, banyak jasa yang telah disumbangkan Emir kepada Garuda. "Saya melihat ketika Garuda Indonesia dipimpin Pak Emir, menjadi perusahaan yang bisa setingkat dunia," kata dia di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Kamis (11/12/2014).

Dia menjelaskan, saat Emir masuk ke Garuda Indonesia, benar-benar dalam kondisi kebangkrutan namun berubah menjadi posisi legasi tertinggi penerbangan Indonesia.

Sejarah mencatat, di bawah kepemimpinan Emirysah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dinobatkan sebagai maskapai berbintang lima. Hal tersebut seperti diakui langsung oleh Skytrax yang merupakan lembaga pemeringkat penerbangan independen berkedudukan di London. Dia melakukan sejumlah perbaikan pelayanan penerbangan. Selain itu, Emirsyah sendiri juga sempat mendapat sejumlah penghargaan skala internasional.

Sayangnya, perbaikan yang dilakukan tidak diikuti dari sisi keuangan. Rapor keuangan burung pelat merah pada kala itu justru mencetak kerugian. Pada tahun buku 2014, Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar USD371,9 juta atau sekitar Rp4,87 triliun (kurs Rp13.100 per USD). Padahal pada tahun 2013, Garuda meraup laba hingga USD13,583 juta atau setara Rp176,85 miliar.

Namun sebelum program Quantum Leap 2011 – 2015 mencapai garis finish, secara mengejutkan pria berdarah Minang tersebut mengajukan pengunduran diri pada 11 Desember 2014. Sementara masa jabatannya berakhir pada Maret 2015.

Baca Juga : Resign dari Garuda, Emirsyah Ingin Jadi Wartawan

Surat pengunduran diri dipublikasikan melalui surat keterbukaan Bursa Efek Indonesia tertanggal 11 Desember 2012 dengan nomor surat Garuda/JKTDI/20348/14 dan akan diberlakukan mulai 12 Desember 2014.

 Emirsyah Satar

Baca Juga : Dikabarkan Jadi Menteri, Dahlan Cari Pengganti Emirsyah Satar & Nur Pamuji

Emirsyah tidak sendiri menjadi pesakitan berompi oranye. KPK juga menetapkan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk 2007-2012 Hadinoto Soedigno (HDS) sebagai tersangka baru kasus suap Garuda. Tidak hanya itu, Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd Soetikno Soedarjo (SS) pun terseret sebagai tersangka.

Berikut profil lengkap Emirsyah Satar :

Emirsyah Satar lahir di Jakarta 28 Juni 1959, meraih gelar Sarjana Ekonomi di bidang Akuntansi dari Universitas Indonesia dan menyelesaikan program Diploma di Sorbonne University, Paris.

Emirsyah Satar lahir dari pasangan Minangkabau. Ayahnya berasal dari Sulit Air, Solok dan ibunya berasal dari Bukittinggi. Ayahnya yang berprofesi sebagai diplomat, membuat hidupnya selalu berpindah-pindah.

Emirsyah memulai karier sebagai Auditor di PricewaterhouseCoopers, Jakarta, pada 1983. Dua tahun kemudian, bergabung dengan Citibank Jakarta sebagai Asisten Vice President of Corporate Banking Group.

 Emirsyah Satar

Pada 1990-1994 menjabat General Manager Corporate Finance Division Jan Darmadi Group di Jakarta. Pada November 1994-Januari 1996, dipercaya menduduki posisi Presiden Direktur PT Niaga Factoring Corporation, Jakarta.

Setahun kemudian, menjadi Managing Director (CEO) Niaga Finance Co. Ltd, Hong Kong.

Bergabung dengan Garuda Indonesia dengan menjabat sebagai Direktur Keuangan (CFO) pada tahun 2003.

Dia pernah menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Hubungan Kerjasama Ekonomi Internasional, Anggota Board of Governors the International Air Transport Association (IATA) dan Anggota Executive Committee Association of Asia Pacific Airlines (AAPA).

Penghargaan :

 

1. Indonesia Most Admired CEO 2013

2. CEO Inovatif untuk Negeri

3. The 1st Rank of The Best CEO 2013

4. Pemimpin Pelestari Bumi The La Tofi School of CSR

5. Senayan City Infinite Merit Award 2013

6. The 2013 Travel Business Leader of the Year dari Singapore Tourism Board dan CNBC,

7. CEO Pilihan SPS dari SPS

8. Akuntan of The Year 2013 dari IAI.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini