Menko Darmin: Masih Banyak Orang RI Simpan Uang di Lemari

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 09 Agustus 2019 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 09 320 2089791 menko-darmin-masih-banyak-orang-ri-simpan-uang-di-lemari-6JRg8pRqyi.jpg Foto: Menko Darmin (Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut masih banyak uang yang tercatat di sektor formal. Menurutnya, dana yang tak tercatat di sektor formal itu gara-gara masih rendahnya tingkat inklusi keuangan.

Menurut Darmin, rendahnya inklusi keuangan ini membuktikan jika masih banyaknya orang yang saving uangnya di lemari. Padahal uang yang dimiliki cukup besar untuk ditabung ke layanan perbankan.

"Tidak berarti dihamburkan uang itu. Banyak orang yang masih simpan dalam lemari sedikit-sedikit, lama-lama dia beli tanah. Nah itu dia mekanismenya, sehingga banyak dana tidak masuk (tercatat)," ujarnya saat di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8/2019).

 Baca Juga: Literasi Keuangan Harus Diajarkan Sejak Dini

Untuk itu lanjut Darmin, saat ini pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menyiapkan program besar untuk mendorong tingkat inklusi keuangan ke arah yang lebih tinggi.

"Coba perhatikan, kredit kita sekarang pertumbuhannya berapa, kira-kira 11%-12%. DPK kira-kira 7%. Berarti ada gap. Nah kita harus handle itu. Keuangan inklusif benar-benar harus kita dorong. Saya, Kemenko Ekonomi dengan OJK sedang siapkan program besar-besaran untuk dorong keuangan inklusif ini," katanya.

Darmin mengatakan, saat ini ekonomi dalam negeri membutuhkan modal jangka pendek atau shorterm capital inflow. Sebab, peranan modal asing yang masuk tak menunjukkan kemajuan lantaran masih di angka 40% di pasar surat berharga pemerintah.

"Peranan modal asing, terutama modal jangka pendek. Kalau FDI tidak ada masalah. Tidak akan dia bawa lari lagi itu pabrik yang dia bangun di sini. Tapi kelihatannya kita makin lama, makin banyak perlu shorterm capital inflow, portofolio investment," katanya.

 Baca Juga: Hari Indonesia Menabung akan Ditetapkan

Agar modal asing tersebut tak cepat habis, Mantan Dirjen Pajak itu menyebut jika Indonesia dibutuhkan modal dari dalam negeri. Sayangnya, masih banyak dana-dana potensial yang tak tercatat di sektor formal.

"Apa yang harus dilakukan, paling tidak kita lihat ada banyak sekali awal mula dari ini sebenarnya, satu saving kita terlu rendah dibanding investment yang dibutuhkan. Saving yang saya adalah maksud efektif saving. Apa itu efektif saving, yang ada di keuangan formal masih terlalu banyak yang tidak pernah mampir, di sektor keuangan formal," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini