Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Beda Vietnam dengan Indonesia dalam Layani Investor Asing

Maghfira Nursyabila , Jurnalis-Kamis, 05 September 2019 |16:16 WIB
Beda Vietnam dengan Indonesia dalam Layani Investor Asing
Ilustrasi Investasi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan tak adanya perusahaan asing yang mau berinvestasi Indonesia. Puluhan perusahaan luar negeri itu lebih memilih negara lain untuk menanamkan modalnya karena rumitnya regulasi di Tanah Air.

Baca Juga: 33 Perusahaan Hengkang dari China Pilih Vietnam, Indonesia Kalah Gesit

Menurut Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudhistira, menilai Indonesia kurang menarik dan terputus dari rantai pasok global. Faktor utama salah satunya karena ruwetnya perizinan relokasi industri manufaktur.

Investasi-Shutterstock

"Vietnam sistem perizinan investasi lebih terintegrasi antara pusat daerah. Sementara Indonesia antara pemerintah pusat dan daerah belum klop. Contohnya soal OSS BKPM dan di tingkat daerah masih terhambat izin wilayah," ujar dia kepada Okezone, Kamis (5/9/2019).

Baca Juga: Kalah Saing dari Vietnam, Indonesia 'Sakitnya' Tuh di Sini

Belum lagi soal insentif fiskal yang lain lagi ceritanya. Vietnam tak seperti di Indonesia, mereka punya insentif yang spesifik. Kalau Indonesia, pemerintah kasih banyak insentif tax holiday, tax allowances tapi belum tentu investor tertarik.

"Ada juga kan investor di sektor tekstil misalnya lebih memilih insentif diskon tarif listrik di jam sibuk atau keringanan bea masuk untuk pengadaan mesin baru," jelas dia.

Kemudian biaya logistik di Indonesia yang mahal dikisaran 22-24% terhadap PDB. Artinya seperempat biaya sebuah produk sudah habis untuk ongkir sendiri.

Infrastruktur industri masih tertinggal, belum proses bea cukai yang lama. Terakhir soal Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor manufaktur.

"Banyak investasi manufaktur yang potensial khususnya tekstil, elektronik dan otomotif. Tapi SDM kita hanya andalkan upah rendah. Padahal upah bukan faktor utama perusahaan lakukan relokasi industri. Karena SDM kita kurang kompetitif. Yang diajarkan di lembaga pendidikan tak nyambung sama kebutuhan rantai pasok global. Itu pekerjaan rumah (PR) yang perlu diperbaiki. Reformasi institusi pendidikan secara radikal yang diperlukan," pungkas dia.

(Feby Novalius)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement