Kompaknya Sri Mulyani dan Destri Damayanti beri Kuliah di FEB UI, Ini yang Dibahas!

Delia Citra, Jurnalis · Selasa 10 September 2019 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 10 20 2103096 kompaknya-sri-mulyani-dan-destri-damayanti-beri-kuliah-di-feb-ui-ini-yang-dibahas-PYpA76jqd4.jpg Sri Mulyani di FEB UI (Facebook)

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani membahas tentang kebijakan ekonomi fiscal dan moneter di depan mahasiswa Universitas Indonesia. Di mana, ilmu ekonomi seperti membicara tentang masyarakat secara individu dalam kehidupan sehari-hari.

Dirinya mengatakan, ekonomi itu terbagi menjadi dua macam, yaitu ekonomi mikro dan makro. “Perbedaannya, bila ekonomi mikro berhubungan dengan choices individual dan bisnis, sedangkan makro berhubungan dengan kinerja tentang perekonomian suatu negara atau perusahaan secara nasional maupun global,” ucap Sri Mulyani di tengah-tengah pemaparan kuliah perdananya dikutip dari website resmi Universitas Indonesia, Selasa (10/9/2019).

 Baca juga: Jadi Inspirasi Anak Bangsa, Sri Mulyani Ajak Jajaran Kemenkeu untuk Mengajar

Sementara itu, prinsip ekonomi menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan, misalnya dengan cara tukar-menukar, orang rasional berpikir kritis, orang merespons insentif (terkadang mendorong untuk bertindak).

 Sri Mulyani

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti memaparkan bahwa perekonomian kita saat ini menghadapi situasi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

 Baca juga: Nobar Gundala, Ini Pesan Moral yang Didapat Sri Mulyani

Volatility, artinya perubahan yang dinamis, cepat, tidak bisa diprediksi. Uncertainty, artinya kondisi saat ini tidak jelas & masa depan jadi lebih sulit diproduksi.

Complexity, artinya berbagai faktor saling berkaitan setiap saat dengan instrumen & organisasi seperti labirin. Ambiguity, artinya kurang kejelasan sehingga informasi semakin gelap & membingungkan.

“Bauran kebijakan BI akan semakin diperkuat untuk memperkokoh ketahanan ekonomi Nasional dalam menghadapi risiko dampak hambatan ekonomi global yang belum kondusif, seperti kebijakan moneter untuk stabilitas & pertumbuhan dan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi terdiri dari kebijakan makro prudential, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, ekonomi keuangan syariah,” tutur Destry.

Menurutnya, transaksi kegiatan bank di seluruh Indonesia secara umum diawasi oleh 3 lembaga, yaitu OJK, BI, dan LPS. Dalam hal ini, pemerintah mendukung pemanfaatan sistem digital untuk bantual sosial. Selain itu, di era digital, perkembangan e-commerce di Indonesia trennya naik terus dengan populer produk yang ditransaksikan berupa fashion, handphone & aksesoris, personal care & kosmetik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini