JAKARTA – Penjual video game terbesar di dunia, GameStop, segera menutup beberapa ritelnya dalam jumlah yang besar. Mengacu data per September 2019, GameStop memiliki lebih dari 5.700 ritel yang tersebar di seluruh dunia.
Masing-masing dari ritel tersebut memiliki biaya operasional per 3 bulan sebesar USD100.000. Hal tersebut menjadi alasan GameStop untuk menutup beberapa ritelnya.
Chief Financial Officer GameStop Jim Bell mengungkapkan, pihaknya berencana untuk menutup 180-200 gerai GameStop.
Baca Juga: 5 Perusahaan Game Asal Indonesia yang Mendunia
"Kami sedang dalam tahap untuk menutup 180 sampai 200 ritel yang performanya tidak terlalu baik di akhir tahun fiskal ini," ungkapnya, dilansir dari Business Insider, Selasa (17/9/2019).
Kedengarannya memang buruk, namun sebenarnya ini merupakan langkah penting bagi GameStop untuk mengurangi biaya operasional yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan supaya bisa bertahan. Bahkan, menurut Bell, GameStop akan menutup gerai lebih banyak lagi dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan.

"Jika mereka menutup 200 gerai tahun ini, maka biaya operasional mereka akan terpangkas USD20 juta tahun depan," tutur seorang analyst asal Wedbush Michael Pachter.
Ke depannya penutupan akan dilakukan dengan meneliti gerai serta daerah dari GameStop secara mendalam."Kami menerapkan pendekatan analitik yang lebih pasti, termasuk tingkat keuntungan dan transfer penjualan, yang kami harapkan akan menghasilkan tahap penutupan yang jauh lebih besar selama 12 hingga 24 bulan mendatang," jelas Bell.
Baca Juga: 10 Perusahaan Games Terbesar di Dunia, dari Sony hingga Sega
Dengan penutupan tersebut, maka sekiranya hanya akan ada 2 toko GameStop dalam jarak 5 mil, menurut analisa Thinknum. Ada alasan bagus untuk itu, GameStop tumbuh sebagian besar berkat merger dan akuisisi, terutama dari pengecer video game lainnya.
Penutupan tersebut merupakan langkah penghematan biaya terbaru dari tim kepemimpinan baru GameStop. Sebelumnya, perusahaan telah mengalami dua kali PHK.
Di bawah tim kepemimpinan barunya, GameStop meluncurkan sebuah inisiatif yang dikenal sebagai "GameStop Reboot" yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali kehidupan baru di rantai ritel. Langkah pertama reboot melibatkan mengatasi masalah dengan apa yang disebut SG & A, istilah keuangan yang merupakan singkatan dari Biaya Penjualan, Umum dan Administrasi. Secara sederhana, berarti menurunkan biaya gaji, pajak, iklan, dan biaya nonproduksi lainnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.