nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengusaha Minta Harga Gas Diturunkan Jadi USD6 per MMBTU

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 25 September 2019 16:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 25 320 2109228 pengusaha-minta-harga-gas-diturunkan-jadi-usd6-per-mmbtu-M3mQ3XBfqA.jpg Kadin Soroti Masih Tingginya Harga Gas Industri. (Foto: Okezone.com/Dok. Kadin)

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali menyoroti ketersediaan gas bumi sebagai salah satu komponen terbesar dari proses produksi industri, baik sebagai bahan baku maupun energi. Pasalnya, harga gas bumi di Indonesia masih relatif lebih mahal untuk menopang daya saing industri nasional.

“Para pelaku usaha menanyakan kembali bagaimana sesungguhnya komitmen kebijaksanaan dan keberpihakan pemerintah dalam menetapkan harga gas yang sampai saat ini belum ada kepastian. Padahal, apabila pasokan gas dalam negeri berdaya saing maka sektor industri manufaktur diharapkan akan tumbuh 6%-7%,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Johnny Darmawan, dalam keterangannya, Rabu (25/9/2019).

Baca Juga: Tak Berubah sejak 2013, Harga Gas Industri Akan Dinaikkan

Johnny mengatakan, gas sangat berperan dalam pengoperasian sektor industri karena biaya gas bumi memberikan kontribusi 20%-30% ke biaya produksi, sehingga penetapan harga gas bumi ikut berpengaruh pada keberlanjutan industri.

Pipa Gas

Seperti diketahui, harapan dunia usaha pernah mencuat pasca terbitnya Perpres No.40/2016 tanggal 3 Mei 2016 tentang penetapan harga gas bumi sebesar USD6 per MMBTU, namun setelah 3 tahun berlalu kenyataannya tak kunjung terimplementasikan, karena hingga saat ini harga jual gas industri masih tetap tinggi dan belum ada perubahan.

Semnetara itu, pemerintah melalui surat edaran PGN No.037802.S/PP.01.01/BGP/2019 tertanggal 31 Juli 2019 justru akan melakukan penyesuaian (menaikan) harga jual gas per 1 Oktober 2019.

Baca Juga: Industri Keramik Minta Harga Jual Gas Disamakan USD7,98/MMBTU

Salah satu niat baik pemerintah yang belum bisa ditunaikan secara tuntas hingga saat ini adalah penurunan harga gas industri. Di dalam beleid tersebut, presiden mengatur agar harga gas bagi tujuh sektor industri, yakni industri pupuk, petrokimia, oleochemical, industri baja, industri keramik, industri kaca, dan industri sarung tangan karet ditetapkan menjadi USD6 per MMBTU. Sampai saat ini beleid tersebut hanya diimplementasikan pada perusahaan BUMN sektor industri pupuk, baja dan pupuk majemuk.

“Perusahaan swasta di sektor industri petrokimia pengolah migas, keramik, kaca, baja, oleokimia, pulp & Kertas serta makanan dan minuman sampai saat ini belum mendapatkan penurunan harga gas,” tutur Johnny.

Menurut Johnny, kondisi persaingan semakin ketat, sementara sektor industri telah terbebani dengan biaya investasi yang besar, sulit dan mahalnya harga gas, biaya produksi industri di Indonesia lebih mahal dibandingkan luar negeri, serta makin berkurangnya hambatan teknis (technical bariers) terhadap arus impor, maka implementasi penurunan harga gas bumi sebagaimana diamanahkan dalam Perpres No.40/2016 harus segera diimplementasikan, agar Indonesia terhindar dari resesi karena saat ini sudah banyak industri yang mati suri akibat tidak mampu bersaing dengan industri sejenis dari luar negeri.

Dia menjelaskan, sektor industri pengguna gas bumi merupakan penggerak perekonomian nasional dari devisa perolehan ekspor, pajak, dan penyerapan tenaga kerja langsung lebih dari 8,5 Juta orang, selain itu sektor industri itu mempunyai keterkaitan yang sangat luas dengan berbagai sektor mulai dari pemasok bahan bakar hingga pemasaran produk hilir (consumer goods).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini