nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Produk Amerika Kian Tergilas Perang Dagang?

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 30 September 2019 08:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 30 278 2110868 produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang-qqxXP2ev26.jpg Ilustrasi Perang Dagang China-AS. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

NEW YORK - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menguatkan nilai dolar AS. Hanya saja dampak perang dagang menimbulkan kerusakan, terutana bagi produsen barang-barang AS yang mayoritas andalkan pasar global.

Institute for Supply Management (ISM) merilis indeks pembelian yang mengukur sejauh mana pelaku pasar mendapatkan kerugian akibat ketegangan perdagangan dan menguatnya mata uang dolar AS. Pada Agustus, sektor manufaktur menyumbang sekitar 12% pada ekonomi AS, namun data yang lebih mengkhawatirkan komponen ekspor mencapai level terendah lebih dari 10 tahun.

Baca Juga: Dampak Perang AS-China, Presiden Jokowi: Ada Peluang untuk Para Pengusaha Mebel di Indonesia

"Para eksportir setidaknya lebih dekat dengan resesi yang diperkirakan," kata analis Senior Robert Pavlik, dikutip dari Reuters, Senin (30/9/2019).

Untuk ekspor terbaru pada Agustus anjlok atau menyentuh level terendah sejak April 2009. Hal tersebut terjadi ketika AS berada dalam pergolakan resesi besar.

Perang Dagang AS-China

Dalam survei PMI Agustus, produsen mengatakan bisnis mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang luas. Apalagi China menerapkan tarif sekitar USD110 miliar pada barang-barang AS, sebagai balasan atas tarif Presiden Donald Trump atas produk impor Tiongkok.

Baca Juga: Jokowi Keluarkan Aturan Khusus Selamatkan Sawah Indonesia

Sementara itu, dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, mencapai level tertinggi pada 3 September. Hal tersebut berimbas pada barang-barang AS yang menjadi lebih mahal di pasar global.

Diperkirakan pendapatan kuartal ketiga Apple Inc, 7,4% lebih rendah dari tahun lalu. Kemudian turun 16,7% untuk kuartal terakhir di Oktober-Desember. General Electric Co (GE.N) mendapat sekitar 61,5% dari pendapatannya dari luar negeri. Analis melihat pendapatan kuartal ketiga perseroan bakal mencapai 44,6% di bawah level yang terlihat setahun yang lalu, dan estimasi EPS kuartal keempatnya sekarang 43,5% lebih rendah.

Micron Technology Inc mengandalkan bisnis non-AS untuk 88,1% dari pendapatannya. Perkiraan pendapatan kuartal ketiga untuk perusahaan telah jatuh 83,4% dari tahun lalu dan 42% dari kuartal terakhir. Pelanggan luar negeri berkontribusi 97,4% dari pendapatan Qualcomm Inc (QCOM.O). Analis telah memangkas estimasi pendapatan kuartal ketiga mereka untuk perusahaan sebesar 47,7% dibandingkan tahun lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini