nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasca Serangan Drone, Pasokan Minyak Arab Saudi Kembali seperti Semula

Fakhri Rezy, Jurnalis · Jum'at 04 Oktober 2019 07:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 04 320 2112722 pasca-serangan-drone-pasokan-minyak-arab-saudi-kembali-seperti-semula-xQAgkRPA6F.jpg Pangeran Abdulaziz bin Salman (Foto: Okezone.com/SAudigazette)

MOSKOW - Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa produksi minyaknya telah kembali seperti semula. Bahkan, melebihi produksi sebelum serangan terhadap kilang minyaknya beberapa waktu lalu.

"Kami bahkan melampaui 9,9 juta barel per hari (bph) kapasitas produksi yang stabil, kami berada pada 11,3 juta barel per hari dan seperti yang telah kami katakan sebelumnya pada akhir November kami akan kembali beroperasi," ujar Menteri Energi Kerajaan Inggris Pangeran Abdulaziz Bin Salman melansir Saudigazette, Moskow, Jumat (4/10/2019).

 Baca juga: Harga Minyak Kembali Turun Imbas Meningkatnya Stok AS hingga 3,1 Juta Barel

Serangan drone pada 14 September di kilang minyak milik Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais telah menghentikan sementara pasokan di negara penghasil minyak tersebut. Pasalnya, sekira 5,7 juta barel per hari (bph) atau sekira 5% dari pasokan global telah terhenti.

 Pangeran Abdulaziz

Namun, pada Agustus, Administrasi informasi energi AS memperkirakan bahwa Arab Saudi telah memproduksi 9,9 juta barel per hari.

 Baca juga: Harga Minyak Turun Dipicu Kelesuan Industri Manufaktur di AS

"Dengan perjanjian kami dengan OPEC+, kami seharusnya memproduksi 10,3 juta barel per hari, kami memilih untuk secara sukarela mengurangi produksi minyak kami ke level yang lebih rendah dari itu," tambahnya.

Pertemuan OPEC dan produsen sekutu di Rusia, telah menyetujui untuk memangkas pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) agar dapat mengendalikan harga minyak. Pemangkasan tersebut akan berlaku pada 1 Januar 2020.

 Baca juga: Kilang Saudi Aramco Pulih, Harga Minyak Langsung Turun

"Saya ingin melanjutkan, kami di industri energi di Arab Saudi, kami punya beberapa tantangan, kami telah mendapatkan IPO dan kami ingin memastikan itu adalah IPO yang sukses," kata Pangeran Abdulaziz.

Para negara penghasil minyak dari seluruh dunia melakukan pertemuan di Moskow selama seminggu untuk membahas berbagai hal. Adapun pembahasannya dari mulai prospek energi global hingga tantangan dalam pengembangan energi terbarukan.

Menurut Pangeran Abdulaziz, ada beberapa kekhawatiran kekuatan resesi yang terlihat. Akan tetapi dirinya menganggap hal ini hanyalah pandangan orang yang skeptis ke tantangan masa depan.

"Satu-satunya cara untuk mengatasi persepsi negatif ini adalah resolusi cepat untuk masalah perdagangan, "kata Pangeran Abdulaziz.

"Dengan perjanjian kami dengan OPEC + kami seharusnya memproduksi 10,3 juta barel per hari, kami memilih untuk secara sukarela mengurangi produksi minyak kami ke tingkat yang lebih rendah dari itu," tambahnya.

Pangeran Abdulaziz pada hari Rabu mengatakan bahwa aliansi OPEC+, kelompok negara-negara OPEC dan non-OPEC berkomitmen untuk mempertahankan pemotongan pasokan minyak untuk mengendalikan harga. Hal ini dikarenakan harga minyak melampaui perkiraan sementara dan pergerakan jangka panjang.

Pangeran Abdulaziz memulai diskusi utamanya di Russia Energy Week pada hari Rabu dengan memuji perjanjian OPEC +, serta aliansi energi strategis antara Arab Saudi dan Rusia. "Kami bersekutu karena ada banyak alasan dalam aliansi kami," kata Pangeran Abdulaziz.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini