Kementan, kata Gatut, juga telah melakukan harmonisasi regulasi, agar mampu menciptakan iklim usaha pertanian yang kondusif dan mendukung terciptanya ketahaan pangan.
Selain itu, Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik WIbowo menyatakan, diperlukan kajian mendalam mengenai kebijakan yang menyentuh sisi penyediaan bibit dan pakan, dikarenakan komponen bibit dan bahan baku pakan masih tergantung pada impor, khususnya jagung. Sampai saat ini komponen pakan menyerap lebih dari 70% dari biaya produksi.
Upaya tersebut diharapkan dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan simultan lintas kementerian dan juga melibatkan subsektor lain.

Eko juga mengatakan, proyeksi konsumsi daging sapi perkapita dan nasional kedepannya diperkirakan positif. Hal ini juga harus diikuti dengan perbaikan system peternakan di Indonesia agar produksi dalam negeri dapat menutupi konsumsi nasional. Salah satu usaha perbaikan system peternakan adalah dengan pengaturan rasio perbandingan impor sapi antara indukan dan bakalan (Permentan Nomor 2 Tahun 2017).
Dari sisi pembiayaan, Senior Vice President Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri, Zedo Faly mengatakan, perbankan memiliki beberapa peran dalam mendukung ketahanan pangan. Di antaranya, menciptakan akses permodalan yang mudah, cepat, dan sederhana untuk petani dan nelayan.
“(Kedua), mengedukasi petani dan nelayan tentang pentingnya literasi keuangan, khususnya produk tabungan,” ujarnya.
Ketiga, lanjutnya, menciptakan peluang usaha yang berhubungan dengan jasa keuangan, seperti layanan keagenan tanpa kantor (branchless banking) dan financial technology.