Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerita Petani Akan Tertatanya Lahan Persawahan di Jatiluwih

Fiddy Anggriawan , Jurnalis-Rabu, 16 Oktober 2019 |13:25 WIB
Cerita Petani Akan Tertatanya Lahan Persawahan di Jatiluwih
Persawahan di Jatiluwih (Foto: Okezone.com/Fiddy Anggriawan)
A
A
A

Wayan menjelaskan, total area lahan pesawahan di Jatiluwih mencapai sekira 303 hektare. Namun, yang efektif ditanami padi sekira 227 hektare. Sisanya, kata Wayan dibuat kandang sapi dan jalan untuk lintasan wisatawan.

Wisatawan lokal dan mancanegara, lanjut Wayan, justru senang berkunjung ketika musim panen di Jatiluwih tiba. "Kalau panen di sini tidak ditutup, justru wisatawan senang jika sedang proses panen. Mereka ingin merasakan mencabut padinya. Di sini wisatawan yang dominan dari Eropa seperti Prancis. Kalau Asia dari Korea, Taiwan dan Jepang yang banyak datang," urainya.

 Baca juga: Pertanian RI Tergantung Keberanian Milenial Jadi Petani

Pertanian Jatiluwih (Fiddy)

Saat ditanya apa yang masih menjadi kendala dalam pengelolaan sawah berundak di Jatiluwih? Wayan menuturkan, ada sedikit permasalahan, yaitu pasca-panen. "Kita belum ada produk olahan dan di pemasaran masih ada kendala. Mudah-mudahan dengan koperasi subak yang baru kita bentuk sehingga produk pertanian kita bisa dipasarkan lebih baik. Sejauh ini pemasaran kita masih di lokal Bali saja," ungkap Wayan.

Sementara Kepala Biro Humas Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan, di sini pihaknya ingin menunjukan bahwa sektor pertanian itu tidak berdiri sendiri. Ada beberapa aspek seperti budaya, pariwisata dan kelestarian alam. Menurut dia, yang terpenting dari semua kombinasi itu memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat lokal di Jatiluwih.

"Kawasan padi Jatiluwih sudah masuk dalam warisan kekayaan dunia untuk sistem pengairan subaknya," turur Boga.

Sistem padi di sini, sambung Boga, memang dikelola secara organik. Pendekatannya lebih kepada mempertahankan budaya dan tradisi. "Jadi walaupun diberikan masukan soal pemanfaatan teknologi dalam penanaman padi, tapi mereka tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Jadi sistem bertaninya tidak merusak lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia, produknya adalah tanaman organik," papar dia.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement