nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Terus Pangkas Suku Bunga Acuan,Kok Bunga Kredit Susah Turun?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 24 Oktober 2019 18:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 24 20 2121349 bi-terus-pangkas-suku-bunga-acuan-kok-bunga-kredit-susah-turun-CAKpWOf2R5.jpg Ilustrasi Kredit (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali sebesar 100 basis point (bps) sejak Juli hingga Oktober 2019. Meski demikian, itu tak seiring dengan besarnya penurunan suku bunga deposito dan kredit perbankan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, selama Juli hingga September 2019 perbankan baru menurunkan suku bunga deposito sebesar 26 bps, bahkan suku bunga kredit baru turun 8 bps. Hal tersebut membuat penyaluran kredit melambat.

Baca Juga: BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5%

"Ini tentu ada jeda, perbankan memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan suku bunganya," ujar Perry saat konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Meski membutuhkan waktu transmisi, namun Perry tetap mengharapkan perbankan segera menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya mengikuti besaran penurunan suku bunga acuan. Hal tersebut untuk mendorong penyaluran kredit.

Konferensi Pers BI soal Suku Bunga Acuan

"Harapannya perbankan bisa turunkan lebih lanjut suku bunga deposito dan kredit agar pembiayaan meningkat," ungkapnya.

Untuk diketahui, BI mencatat rerata tertimbang suku bunga deposito tercatat 6,57% pada September 2019. Suku bunga kredit juga mulai menurun, terutama pada kredit investasi tercatat sebesar 10,11% dan kredit modal kerja sebesar 10,33%.

Baca Juga: BI Rate Diharap Turun, Ini Manfaatnya!

Di sisi lain, Perry menyatakan tetap optimistis pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2019 bisa sesuai target yakni berkisar 10%-12%. Lantaran, menengok pola tahun-tahun sebelumnya, di mana penyaluran kredit tumbuh lebih tinggi pada kuartal IV.

"Ke depan penyaluran kredit akan semakin tinggi," katanya.

Adapun BI mencatatkan pertumbuhan kredit melambat dari 9,58% (yoy) pada Juli 2019 menjadi 8,59% (yoy) pada Agustus 2019, utamanya dipengaruhi masih terbatasnya permintaan kredit korporasi.

Menurut Perry, melambatnya penyaluran kredit juga didorong banyaknya perusahaan yang kini mulai mencari pendanaan melalui pasar modal. Hal itu tercermin dari penerbitan obligasi earning back asset (EBA) maupun sukuk tumbuh 28,1% pada September 2019. Begitu pula dengan penerbitan medium term note yang tumbuh 17,3%.

"Tentu saja ini menunjukkan bahwa korporasi-korporasi mulai mencari pembiayaan dari pasar modal," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini