Hong Kong Memasuki Resesi Imbas Unjuk Rasa yang Belum Juga Berakhir

Senin 28 Oktober 2019 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 28 320 2122639 hong-kong-memasuki-resesi-imbas-unjuk-rasa-yang-belum-juga-berakhir-Q5emba6rHH.jpg Demo Hong Kong (Reuters)

HONG KONG - Hong Kong telah memasuki masa resesi. Hal ini karena telah dilanda protes anti-pemerintahan selama 5 bulan lebih dan belum menunjukan adanya solusi.

Sekretaris keuangan Hong Kong Paul Chan mengatakan, protes tersebut membuat Hong Kong tidak mungkin mencapai target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. "Pukulan terhadap ekonomi kita komprehensif," kata Paul melansir reuters, Jakarta, Senin (28/10/2019).

 Baca juga: Orang Terkaya Nomor 1 di Hong Kong Ngiklan di Koran, Isinya Puisi Hentikan Demo

Paul Chan mengatakan bahwa perkiraan awal untuk PDB Kuartal III-2019 menunjukkan 2 kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Hal ini menjadi definisi teknis dari sebuah resesi.

 kericuhan Hong Kong

Dirinya juga mengatakan, akan sangat sulit untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunan 0-1% jika masih ada protes di Hong Kong.

 Baca juga: Demo Hong Kong, Harta Li Ka-shing dan 9 Miliarder Lainnya Hilang Rp214 Triliun

Protes di bekas koloni Inggris ini telah mencapai minggu ke-21 mereka. Pada hari Minggu, demonstran berpakaian hitam dan bertopeng membakar toko-toko dan melemparkan molotov ke polisi yang merespons dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.

Para pengunjuk rasa secara rutin membakar toko dan pusat bisnis termasuk bank, terutama yang dimiliki oleh perusahaan China daratan. Selain itu pengunjuk rasa merusak sistem metro kota MTR Corp.

MTR telah menutup layanan lebih awal selama beberapa minggu terakhir dan mengatakan akan menutup sekitar dua jam lebih awal dari biasanya pada hari Senin pukul 11 malam untuk memperbaiki fasilitas yang rusak.

 Baca juga: Mengerikan, Hong Kong Dibayangi Rush Money

Jumlah wisatawan anjlok, penurunan Chan disebut "darurat" dengan penurunan jumlah pengunjung memburuk pada Oktober, turun hampir 50 persen.

Operator ritel, dari mal perbelanjaan utama hingga bisnis ibu dan pop, telah dipaksa untuk menutup selama beberapa hari selama beberapa bulan terakhir.

Sementara pihak berwenang telah mengumumkan langkah-langkah untuk mendukung usaha kecil dan menengah yang disita lokal, Chan mengatakan langkah-langkah itu hanya bisa mengurangi sedikit tekanan.

"Biarkan warga kembali ke kehidupan normal, biarkan industri dan perdagangan beroperasi secara normal, dan ciptakan lebih banyak ruang untuk dialog rasional," tulisnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini