Alasan Kota Besar Dirancang Tak Ramah Akan Kebutuhan Anak

Senin 28 Oktober 2019 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 28 470 2122571 alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak-mfpfb7SNj4.jpg Kota (Reuters)

Harga yang harus dibayar untuk menjadi kota ramah anak

Mungkin kelihatannya keterjangkauan hidup di perkotaan bagi banyak keluarga merupakan masalah kekuatan pasar belaka. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan spesifik yang ada turut membentuk memungkinkan atau tidaknya kehidupan di sana.

Meski sulit menentukan dengan tepat seberapa banyak kehidupan suatu keluarga membebani kota, pada umumnya lebih daripada warga yang hanya punya satu atau tidak punya sanak sama sekali.

Beberapa pejabat perkotaan beralasan bahwa, secara ekonomi, lebih masuk akal untuk memprioritaskan penduduk tanpa-anak, yang bisa membawa keuntungan ekonomi bersih terhadap kota, ketimbang keluarga, yang justru membawa kerugian.

Lagipula, anak-anak tidak menciptakan nilai 'belanja' yang besar atau membayar pajak. Selain itu, operasional sekolah juga bisa menjadi pengeluaran terbesar pemerintah daerah.

Di Amerika Serikat, penutupan sekolah-sekolah negeri menjadi salah satu dampak proses gentrifikasi. Contoh mumpuninya ada di Philadephia, di mana sebuah sekolah tinggi teknik ditutup dan diubah menjadi sebuah restoran pop-up kelas atas.

Demikian juga, beberapa kota di Finlandia yang menutup sejumlah taman bermain sehingga mereka tidak perlu melakukan investasi - yang sebenarnya diperlukan - untuk memenuhi standar keamanan kota terbaru.

 Perkotaan

Rumah-rumah yang mudah dijangkau juga merupakan kunci untuk memungkinkan keluarga hidup di kota, akan tetapi banyak kota besar yang tidak memiliki rumah berkamar-banyak yang harganya terjangkau.

Diperkirakan hanya 5% rumah disewakan dengan tarif pasar di kota-kota besar di AS yang memiliki setidaknya tiga kamar - dan di kawasan seperti Los Angeles, sebagian besar rumah tangga berpenghasilan menengah tidak mampu membeli rumah berkamar-banyak yang tersedia.

Bahkan di kota-kota dengan rumah-rumah yang lebih ramah keluarga, seperti Amsterdam, propertinya seringkali 'dipecah' kembali menjadi unit-unit terpisah untuk disewakan kepada penduduk lajang dan mereka yang tidak punya anak (sebuah praktik kontroversial yang di Belanda dikenal dengan sebutan 'verkamering').

Hal ini menguntungkan pihak pengembang dan tuan tanah yang dapat memperoleh lebih banyak uang dari penambahan unit tempat tinggal yang dimampatkan ke dalam luasan rumah yang sama.

Satu cara Amsterdam merespons krisis ruang di sana adalah dengan membangun gedung-gedung tinggi. Namun Karsten, yang telah tinggal berpuluh-puluh tahun di lingkungan Middenmeer, Amsterdam bersama keluarganya, berpendapat bahwa gedung tinggi tidak terlalu ramah keluarga.

Penelitiannya menunjukkan bahwa bahkan di Hong Kong, di mana merupakan hal yang biasa bagi banyak keluarga untuk tinggal di gedung-gedung tinggi, banyak keluarga yang mengeluhkan jenis bangunan tersebut, karena dinilai tidak memiliki sistem sekat suara ataupun ruang terbuka seperti rumah tapak pada umumnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini