nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Transaksi Jasa Keuangan Digital Asean Ditaksir Tembus USD38 Miliar

Maghfira Nursyabila, Jurnalis · Kamis 31 Oktober 2019 14:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 31 320 2124051 transaksi-jasa-keuangan-digital-asean-ditaksir-tembus-usd38-miliar-RIvCer1FEU.jpg Fintech. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA – Layanan keuangan digital diperkirakan akan menghasilkan setidaknya USD38 miliar pendapatan dari seluruh Asia Tenggara pada 2025.

Laporan yang ditulis bersama konsultan manajemen Global Bain & Company, Google dan Temasek Holdings mengatakan, jumlah itu akan terus tumbuh hingga USD60 miliar dalam 6 tahun ke depan. Apalagi jika ada investasi berkelanjutan dari pelaku usaha di industri keuangan digital.

Baca Juga: Terbongkar, Fintech Ilegal Pakai Server di Luar Negeri

Jika hal itu benar-benar terealisasi pada 2025, industry ini mengalami lompatan sekira 245%-445% dari USD11 miliar pendapatan layanan keuangan digital hari ini.

Melansir dari CNBC, Kamis (31/10/2019), Pemimpin Bain & Company Aadarsh Baijal mengatakan bahwa pasar jasa keuangan Asia Tenggara relatif terbelakang ketika melihat tolak ukur dari pasar di negara maju. Laporan tersebut melihat pasar di Vietnam, Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Fintech

Studi tersebut juga memaparkan bahwa Lebih dari 70% dari 400 juta konsumen di kawasan itu saat ini tidak memiliki rekening bank atau kurang.

"Yang underbanked benar-benar konsumen yang memiliki rekening bank tetapi tidak benar-benar berpartisipasi sepenuhnya di pasar jasa keuangan," kata Baijal.

Baca Juga: Penyaluran Pinjaman Online Tembus Rp54,7 Triliun

Dalam laporan itu juga mengatakan bahwa ada sekitar 98 juta underbanked di enam ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan mereka mewakili potensi terbesar dan mesin pertumbuhan sejati dalam layanan keuangan digital.

Menurut penelitian platform teknologi konsumen seperti Grab atau Gojek memiliki keuntungan dalam mendapatkan pangsa pasar di segmen ini karena basis pelanggan mereka yang berkembang yang menggunakan berbagai layanan dari mereka.

Grab dan Gojek memulai bisnis kendaraan online dan terus berkembang ke daerah lain, termasuk pembayaran digital dan pinjaman. Mereka mampu menghasilkan volume besar data dari pengguna mereka secara teratur, dan itu memungkinkan perusahaan untuk memahami harapan, perilaku, dan sentimen konsumen.

"Meskipun mereka memiliki banyak waktu, mereka masih memperjuangkannya untuk mendapatkan kepercayaan," kata Baijal.

Baijal menjelaskan bahwa pada titik ini, kebanyakan orang masih akan mencari bank untuk menyetor gaji mereka karena mereka dianggap lebih dapat dipercaya. Studi ini mengidentifikasi lima area di pasar layanan keuangan online: pembayaran, pengiriman uang, pinjaman, asuransi, dan investasi.

Fintech

Pembayaran digital diperkirakan melampaui usd1 triliun nilai transaksi pada tahun 2025, sementara pinjaman online akan muncul sebagai kontributor pendapatan terbesar dari waktu ke waktu.

64 juta bisnis kecil dan menengah di Asia Tenggara juga termasuk dalam kategori underbanked, di mana perusahaan-perusahaan itu berjuang untuk mendapatkan kredit yang terjangkau.

Penggunaan teknologi keuangan dan data berpotensi dapat membantu menciptakan model bisnis yang dapat melayani segmen underbanked ini. Menurut laporan itu, 46% perusahaan yang disurvei mengatakan mereka mungkin akan menerima pembayaran digital dalam 2 hingga 3 tahun ke depan, sementara 30% mengatakan mereka sudah menerima pembayaran online.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini