Pemicu lainnya adalah keraguan pasar terhadap realisasi dari wacana OPEC+ untuk memperbesar volume pemotongan produksi dalam pertemuan bulan Desember 2019 mendatang, setelah Rusia menunjukan sikap waspada dalam menanggapi wacana tersebut.
Terakhir, respon pasar minyak yang negatif atas sejumlah serangan di beberapa fasilitas minyak mentah di Arab serta kepastian bahwa Arab Saudi dapat mengembalikan sebagian besar pasokan minyak yang hilang, lebih cepat dari yang diperkirakan.
Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh melemahnya perekonomian regional yang ditandai dengan keterlibatan pemerintah yang terus-menerus dalam pemberian stimulus, terutama penyesuaian tingkat suku bunga, seperti yang terjadi di China dan India.
Selain itu, melemahnya marjin kilang di Asia seiring peningkatan biaya pengangkutan akibat pengenaan sanksi AS terhadap sejumlah perusahaan pelayaran China, serta berkurangnya ketersediaan kapal akibat proses perbaikan untuk mematuhi ketentuan pembatasan sulfur oleh IMO.
"Faktor lainnya adalah berlimpahnya pasokan produk minyak akibat peningkatan aktifitas kilang di beberapa negara Asia," tambah Tim Harga Minyak Indonesia.
