Share

BPS Catat Impor Cangkul Capai Rp1,48 Miliar, Terbanyak dari China

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 15 November 2019 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 15 320 2130217 bps-catat-impor-cangkul-capai-rp1-48-miliar-terbanyak-dari-china-qPINu7x1v6.jpg Ilustrasi Cangkul. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan kebiasaan Indonesia yang masih melakukan impor cangkul, padahal komoditas itu sangat memungkinkan untuk diproduksi sendiri. Ternyata, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memang melakukan impor cangkul setiap tahunnya.

Baca Juga: Kemendag Bakal Cabut Izin Usaha Perusahaan yang Impor Pacul

Cangkul impor tersebut utamanya berasal dari China. Sepanjang Januari-Oktober 2019 tercatat nilai impor cangkul mencapai USD106.127 atau Rp1,48 miliar (asumsi kurs USD14.000 per USD), dengan volume sebanyak 292.444 kilogram (kg).

Pelabuhan

Secara rinci, impor cangkul tersebut berasal dari China sebanyak 291.437 kg dengan nilai sebesar USD106.062. Sisanya hanya sebesar 7 kg yang berasal dari Jepang dengan nilai sebesar USD65.

Baca Juga: Hobi Impor Pakai Uang Pemerintah, Jokowi: Kebangetan Banget

BPS bahkan mencatat sepanjang 2015-2018 impor cangkul seluruhnya berasal dari China. Pada tahun 2015, nilai impor cangkul USD6.589 dengan volume sebanyak 14.261 kg.

Kemudian nilainya naik tajam pada tahun 2016 menjadi sebesar USD187.064 dengan volume sebanyak 142.783 kg. Namun pada tahun 2017, nilai impor cangkul mengalami penurunan tajam menjadi USD794 dengan volume 2.317 kg.

Pada tahun 2018, impor cangkul tercatat kembali naik menjadi nilai USD33.889 dengan volume sebanyak 78.100 kg. Hingga pada akhir Oktober 2019 nilai impor cangkul menjadi USD106.127.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menyebut izin impor yang diberikan dalam bentuk lembaran plat baja alias bahan baku untuk pembuatan cangkul. Persetujuan Impor (PI) yang diberikan sebanyak 400.000 kg di tahun 2019. 

"Selama tahun 2019 hanya baru satu kali beri izin impor bahan baku untuk perkakas tangan, jadi baru berbentuk lembaran plat baja, belum diruncingkan, belum ada ujungnya, belum di cat, dan belum diberi merek," ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (8/11/2019).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini