Permintaan Kredit Korporasi Melambat, Begini Penjelasan Gubernur BI

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 21 November 2019 19:27 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 21 320 2132861 permintaan-kredit-korporasi-melambat-begini-penjelasan-gubernur-bi-Xq2R1g2FFs.jpg Perry Warjiyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7,89% (year on year/yoy) pada September 2019, mengalami perlambatan dari pertumbuhan di Agustus 2019 yang sebesar 8,59%yoy. Perlambatan ini dipengaruhi rendahnya permintaan kredit korporasi.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, likuditas perbankan saat ini mencukupi untuk penyaluran kredit, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang besar yakni 19,43% pada September 2019. Namun, korporasi ternyata belum tertarik untuk memanfaatkan pendanaan dari perbankan.

 Baca juga: Rendahnya Suku Bunga Belum Mampu Dongkrak Pertumbuhan Kredit

Berdasarkan survei BI, lanjutnya, mengindikasikan pada tahun 2020 hanya 47% korporasi yang merencanakan untuk berinvestasi, sedang 53% sisanya memilih untuk fokus konsolidasi kondisi keuangan. Di sisi lain, impor barang modal dan bahan baku trennya menuruna sepanjang kuartal I hingga III, menunjukkan aktivitas bisnis yang melemah.

 Bank Indonesia

"Jadi ini indikator mengapa permintaan kredit masih belum kuat," ungkap Perry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

 Baca juga: Kredit Bermasalah Naik, OJK: Itu Hanya Sementara

Menurutnya, 80% pendanaan untuk produksi dan investasi korporasi berasal dari kas internal. Di mana pembagian dividen oleh perusahaan terbukan mengalami penurunan, lantaran laba ditahan untuk kebutuhan pendanaan.

"Artinya perusahaan mendapat pendanaan dari laba lebih banyak. Llaba ditahan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan mereka," katanya.

 Baca juga: Pendaftar CPNS 2019 Purwakarta Capai 1.671, Kebutuhan Hanya 169 Posisi

Menurut Perry, korporasi juga banyak menahan ekspansi karena masih menakar prospek perekonomian kedepan ditengah pelemahan ekonomi global. IMF memang memproyeksi pertumbuhan ekonomi global hanya mampu mencapai 3%, terendah sejak krisis di tahun 2008.

"Mereka menakar confidence untuk ekonomi kedepan tumbuh seperti apa, dan akan tentukan seberapa besar untuk tambah produksi dan investasi, serta menghitung tingkat hasil yang bisa diharapkan untuk tutup biaya modal," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini