Presiden Jokowi Ajak Jepang Investasi di Pulau-Pulau Terluar

Vania Halim, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 13:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 10 320 2151427 presiden-jokowi-ajak-jepang-investasi-di-pulau-pulau-terluar-pzBpOFAfA8.jpg Presiden Jokowi. (Foto: Okezone.com/Biro Pres Setpres)

JAKARTA - Selain investasi di Kepulauan Natuna, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengajak Jepang melakukan investasi untuk pengembangan pulau-pulau terluar.

“Ini bukan hal yang baru dan Presiden menyampaikan khusus untuk Natuna maka beberapa kerja sama yang memang sudah dibahas sejak lama, antara lain untuk pengembangan perikanan termasuk SKPT (Sentra Kelautan Perikanan Terpadu), kemudian yang kedua juga pengembangan pariwisata, kemudian yang ketiga adalah peningkatan kapasitas nelayan,” kata Menlu dilansir dari laman setkab.go.id, Jumat (10/1/2020).

Baca Juga: AS Bakal Investasi Miliaran Dolar di Indonesia

Terkait kerjasama pengembangan SKPT di Natuna, Menlu menegaskan, bahwa itu bukan hal yang baru. Malah sekarang sudah fase kedua. Namun pemerintah ingin ingin ada kerja sama dalam rangka pemberdayaan nelayan, dan lain-lain.

“Jadi sekali lagi ini adalah isu yang sudah cukup lama dibahas, Presiden menyampaikan kembali karena Presiden juga baru dari Natuna dan intinya pesan Presiden adalah pengembangan perikanan di Natuna akan terus diperkuat,” ucap Menlu.

Jokowi

Tentu saja, selain investasi di kepulauan-kepulauan terluar, menurut Menlu, kalau dengan Jepang investasi di bidang infrastruktur juga akan diteruskan.

Hal kedua yang disampaikan Presiden, lanjut Menlu, adalah harapan agar draft perjanjian RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) dapat ditandatangani pada tahun ini.

Baca Juga: Ketegangan di Natuna, Kepala BKPM: Investasi China Tetap Stabil

Kemudian hal yang ketiga yang dibahas adalah mengenai kerja sama dalam konteks pengembangan sumber daya manusia. Baik melalui program vokasi maupun program internship on the job.

“Jadi internship pada perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, serta pengembangan bahasa Jepang,” kata Menlu seraya menambahkan, bahwa Jepang saat ini sedang kekurangan sekali tenaga-tenaga, sudah ada komunikasi-komunikasi sebelumnya.

Menurut Menlu, yang perlu diperkuat adalah antara lain mengenai masalah skill di bidang bahasa. Oleh karena itu, lanjut Menlu, kalau kita melakukan kerja sama di bidang bahasa maka muaranya adalah dalam rangka dapat memenuhi permintaan pasar tenaga kerja Jepang dari Indonesia yang memang saat ini potensi cukup banyak.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini