nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Kemiskinan, Pulau Jawa Paling Banyak hingga Rokok Jadi Pemicunya

Hairunnisa, Jurnalis · Kamis 16 Januari 2020 14:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 16 320 2153728 fakta-kemiskinan-pulau-jawa-paling-banyak-hingga-rokok-jadi-pemicunya-2P7Bj0Yg3Y.jpg Kemiskinan (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 9,22% pada September 2019. Angka tersebut setara dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 24,79 juta orang. Posisi itu mengalami penurunan 0,14% atau 360 ribu orang dari posisi Maret 2019. Begitu pula dibandingkan dengan September 2018, mengalami penurunan 0,44% atau turun 880 ribu orang.

BPS bilang, faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan Indonesia berasal dari rata-rata upah buruh per hari yang mengalami kenaikan di September 2019, begitu pula dengan nilai tukar petani yang meningkat. Di sisi lain, angka inflasi nasional juga terjaga rendah.

Baca Juga: BPS Sebut Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak Ada di Pulau Jawa

Berikut adalah fakta-fakta mengenai kemiskinan yang disebut turun oleh BPK:

1.Penduduk Miskin di Papua Turun Hampir 1%

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, terdapat 33 provinsi di Indonesia yang mengalami penurunan penduduk miskin, sebaliknya ada satu provinsi yang meningkat. Enam provinsi paling tinggi yang mengalami penurunan penduduk miskin adalah Papua 0,98%, Nusa Tenggara Barat (NTB) 0,68%, Papua Barat 0,66%, Nusa Tenggara Timur (NTT) 0,47%, Bengkulu 0,32%, dan Lampung 0,32%.

"Sedangkan satu provinsi yang mengalami kenaikan jumlah penduduk miskin, yakni Maluku Utara sebesar 0,14%," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Potret Kemiskinan, Pemukiman Kumuh di Atas Rawa Sampah Plastik 

Meski demikian, Provinsi Papua masih memegang persentase jumlah penduduk miskin tertinggi yakni 26,55% atau dengan jumlah 900,95 ribu orang. Kemudian Papua Barat menduduki peringkat kedua dengan 21,51% atau setara dengan jumlah 207,59 ribu orang miskin.

Kemudian NTT menempati peringkat ketiga dengan persentase 20,62% atau setara dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 1,12 juta orang. Maluku sebesar 17,6% dengan jumlah 319,51 ribu orang miskin, serta Gorontalo dengan persentase sebesar 15,31% atau setara berjumlah 184,71 ribu orang miskin.

2. Presentase penduduk miskin terendah di DKI Jakarta

Provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah ada pada DKI Jakarta sebesar 3,42% atau setara dengan jumlah 362,30 ribu penduduk miskin. Serta pada Provinsi Bali dengan persentase 3,61% atau setara dengan jumlah 156,91 ribu orang miskin.

Kemudian Kalimantan Selatan terendah ketiga dengan persentase sebesar 4,47% atau setara berjumlah 190,29 ribu orang miskin. Lalu Kepulauan Bangka Belitung dengan persentase sebesar 4,50% atau setara 67,37 ribu orang miskin, serta Kalimantan Tengah 4,81% atau setara dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 131,24 ribu orang.

Potret Kemiskinan, Pemukiman Kumuh di Atas Rawa Sampah Plastik

3. Penduduk miskin paling banyak di Pulau Jawa

Jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 24,79 juta orang, dari total penduduk miskin tersebut, Pulau Jawa masih memiliki jumlah terbanyak dari pulau-pulau lainnya. Terdapat 12,56 juta orang miskin di Pulau Jawa dengan tingkat persentase sebesar 8,29%.

"Sedangkan jumlah penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan dengan 961,51 ribu orang, atau setara 5,81%," ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Secara rinci, komposisi jumlah penduduk miskin di Pulau Jawa yakni perkotaan sebanyak 6,33 juta orang dan perdesaan sebanyak 6,21 juta orang. Lalu pada Pulau Kalimantan, penduduk miskin di perkotaan sebanyak 329,36 ribu orang dan di perdesaan sebanyak 632,15 ribu orang.

Potret Kemiskinan, Pemukiman Kumuh di Atas Rawa Sampah Plastik

4. Gaji Rp2 Juta masuk golongan miskin

BPS mencatat garis kemiskinan Indonesia mengalami kenaikan, seiring dengan turunnya angka kemiskinan. Pada September 2019, garis kemiskinan menjadi sebesar Rp440.538 per kapita per bulan.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, jika rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4 hingga 5 anggota keluarga, maka jika dikalikan dengan Rp440.538, hasilnya garis kemiskikanan rata-rata secara nasional menjadi sebesar Rp2.017.664 per rumah tangga.

Dengan demikian, jika terdapat rumah tangga yang memiliki pendapatan di bawah nominal tersebut, artinya masuk ke dalam kategori miskin.

"Bukan jumlah yang kecil untuk bisa mengumpulkan pendapatan Rp2 juta (per bulan per rumah tangga)," katanya.

5. Beras dan Rokok jadi penyebab kemiskinan

BPS mencatat beras dan rokok kretek filter menjadi komoditas yang paling berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan. Pada September 2019 garis kemiskinan tercatat sebesar Rp440.538 per kapita per bulan. Sumbangan beras pada garis kemiskinan sebesar 20,35% di perkotaan dan 25,82% di perdesaan. Sedangkan rokok kretek filter menyumbang dan 11,17% di perkotaan dan 10,37% di perdesaan.

"Sehingga rokok kretek filter menjadi (kontributor) terbesar kedua terhadap garis kemiskinan," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Selain kedua komoditas itu, terdapat komoditas makanan lainnya yang turut menyumbang garis kemiskinan. Pada posisi ketiga ada telur ayam ras yang menyumbang 4,44% di perkotaan dan 3,47% di perdesaan, lalu daging ayam ras 4,07% di perkotaan dan 2,48% di perdesaan.

Kemudian terdapat mie instan dengan kontribusi sebesar 2,32% di perkotaan dan 2,16% di perdesaan, gula pasir 1,99% di perkotaan dan 2,78% di perdesaan, kopi bubuk dan instan 1,87% di perkotaan dan 1,88% di perdesaan. Lalu ada kue basah yang menyumbang 1,94% di perkotaan dan 1,91% di perdesaan, tempe menyumbang 1,68% di perkotaan dan 1,50% di perdesaan, serta tahu menyumbang 1,60% di perkotaan dan 1,46% di perdesaan.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini