nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Atasi Defisit Neraca Dagang, Menperin Prioritaskan 15 Industri Orientasi Ekspor

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 17 Januari 2020 20:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 17 320 2154488 atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor-epI9k57sYy.jpg Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan pengembangan sektor industri yang berorientasi ekspor. Upaya ini dinilai akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

“Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,” kata Agus, dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Baca Juga: 6 Fakta Defisit Neraca Dagang Mengecil Jadi USD3,2 Miliar di 2019

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Desember 2019, ekspor produk industri pengolahan mampu menembus hingga USD126,57 miliar atau menyumbang sebesar 75,5% terhadap total ekspor Indonesia yang menyentuh di angka USD167,53 miliar sepanjang tahun lalu.

“Kita sudah punya peta jalan Making Indonesia 4.0, yang menjadi strategi kesiapan kita memasuki era industri 4.0. Melalui roadmap ini, kita juga akan meningkatkan 10% dari kontribusi ekspor netto terhadap PDB,” tuturnya.

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Defisit USD3,2 Miliar Sepanjang 2019

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian sudah memetakan 15 sektor yang akan mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15 sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa sawit dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.

Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta industri kerajinan.

“Adapun beberapa tantangan yang perlu segera dibenahi agar industri kita bisa lebih berdaya saing, antara lain adalah menjaga ketersediaan bahan baku dan komponen. Kemudian, dilakukan pendalaman struktur industri, pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), dan terus mendorong pembangunan kawasan industri termasuk sentra IKM,” tuturnya.

Agus menambahkan, kementeriannya juga fokus untuk turut menarik investasi bagi sektor industri yang menghasilkan produk substitusi impor dan tetap menjalankan kebijakan hilirisasi industri. “Untuk mengatasi defisit neraca perdagangan sektor industri, juga dapat melalui substitusi impor dan hilirisasi,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini