nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Fakta Defisit Neraca Dagang Mengecil Jadi USD3,2 Miliar di 2019

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 16 Januari 2020 18:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 16 320 2153890 6-fakta-defisit-neraca-dagang-mengecil-jadi-usd3-2-miliar-di-2019-InBwF9tHtC.jpg Defisit Neraca Dagang 2019 (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD3,2 miliar sepanjang 2019. Realisasi ini membaik dibandingkan sepanjang 2018 yang mengalami defisit sebesar USD8,6 miliar.

Defisit tersebut terdiri dari laju impor sepanjang 2019 yang sebesar USD170,72 miliar, sedangkan laju ekspor lebih lambat yakni sebesar USD167,52 miliar.

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Defisit USD3,2 Miliar Sepanjang 2019

Dari laporan BPS tentang neraca perdagangan RI sepanjang 2019, ada sejumlah fakta menarik yang patut untuk disimak. Berikut fakta-fakta menarik tentang defisit neraca perdagangan yang diranngkum oleh Okezone, Jakarta, Kamis (16/1/2020):

1. Kontribusi Terbesar Impor dari Sektor Migas

Penyebab defisit masih berasal dari migas. Sektor ini menyumbang kinerja defisit sebesar USD9,34 miliar sepanjang 2019. Memang lebih kecil dibandingakan tahun sebelumnya yang jumlahnya mencapai USD12,69 miliar.

Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Sektor Migas Tembus USD971,3 Juta pada Desember 2019

Defisit migas ini terdiri dari minyak mentah yang mengalami defisit sebesar USD4 miliar di tahun lalu, begitu pula dengan hasil minyak yang defisit USD11,73 miliar. Sedangkan untuk gas tercatat mengalami surplus sebesar USD6,39 miliar.

Secara rinci, laju ekspor migas di sepanjang tahun 2019 mencapai USD12,53 miliar, sedangkan laju impor mencapai sebesar USD21,88 miliar.

2. Kinerja Non Migas Surplus

Di sisi lain, kinerja nonmigas masih mengalami surplus sebesar USD6,15 miliar di sepanjang 2019. Terdiri dari laju impor nonmigas sebesar USD148,83 miliar, dan ekspor yang sebesar USD154,98 miliar.

3. Impor Indonesia Tembus USD170,72 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total impor Indonesia sebesar USD170,72 miliar di sepanjang tahun 2019. Realisasi itu mengalami penurunan 9,53% dibandingkan tahun 2018 yang sebesar USD188,71 miliar.

Sektor migas tercatat sebesar USD21,88 miliar, lebih rendah dari 2018 yang sebesar USD29,86 miliar. Sedangkan impor nonmigas sebesar USD148,83 di 2019, lebih rendah dari tahun 2018 yang sebesar USD158,84 miliar.

Adapun berdasarkan penggunaan barang, seluruhnya mengalami penurunan impor. Barang konsumsi tercatat sebesar USD16,41 miliar, turun 4,51% secara dari tahun 2018 yang sebesar USD17,18 miliar.

Pada impor barang modal tercatat sebesar USD28,41 miliar, turun 5,13% dari tahun sebelumnya yang sebesar USD29,95 miliar. Impor bahan baku/penolong turun 11,07%, dari sebesar USD141,58 miliar di 2018 jadi USD125,90 miliar di 2019.

 

4. Impor Migas Tinggi Imbas Ekonomi Global

Masih tingginya impor migas ini tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang tengah mengalami ketidakpastian. Harga komoditas sepanjang Desember 2019 pun mengalami kenaikan dan penurunan dari November 2018.

Seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi USD67,18 per barel dari bulan sebelumnya USD63,26 per barel. Harga minyak kelapa sawit (CPO) pun naik 12,67% dan karet naik 7,35% di Desember 2019.

5. Neraca Dagang RI Mulai Membaik

Memang neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2019 ini mengalami defisit yang cukup besar yang mana jumlahnya USD3,2 miliar. Namun jika dibandingkan dengan angka tahun kemarin, defisit neraca dagang Indonesia mulai mengecil karena pada tahun lalu, neraca dagang Indonesia mencapai USD8,6 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menilai, kinerja neraca dagang Indonesia sebesar USD USD3,20 miliar sepanjang 2019 terbilang cukup baik. Lantaran, realisasi defisit mengecil bila dibandingkan dengan 2018

"Jadi kan (defisitnya) mengecil di tahun lalu," kata Luhut ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

6. Defisit Neraca Dagang Mengecil Karena B20

Penurunan defisit tak lepas dari upaya pemerintah untuk menekan impor dan menggenjot ekspor. Salah satunya, melalui kebijakan mandatori B20 yakni pencampuran solar dengan 20% biodesel sejak September 2018.

Hal ini dinilai mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini terus menyumbang defisit dalam neraca dagang Indonesia. Kini pemerintah tengah menerapkan kebijakan mandatori B30 sejak Januari 2020, yang diperkirakan bakal semakin menekan impor BBM.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini