nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta-Fakta 15 Industri Prioritas Ekspor untuk Tekan Defisit Neraca Perdagangan

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 09:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 19 320 2155068 fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan-AmOLkCFHPV.jpg Pelabuhan. (Foto: Okezone.com/Koran Sindo)

JAKARTA - Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami defisit USD3,2 miliar. Penyebab defisit neraca dagang disebabkan salah satunya karena sektor migas.

Saat ini, pemerintah tengah menggenjot sektor industri. Dikabarkan sektor industri mampu menurunkan defisit neraca perdagangan.

Simak fakta mengenai neraca perdagangan yang dilansir oleh Okezone, pada Senin (20/1/2020):

1. Defisit 2019 Lebih Baik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD3,2 miliar sepanjang 2019. Realisasi ini membaik dibandingkan sepanjang 2018 yang mengalami defisit sebesar USD8,6 miliar.

"Defisit ini jauh lebih kecil bila dibandingkan tahun 2018, hampir sepertiganya. Jadi masih defisit, tapi jauh lebih kecil," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

2. Ekspor-Impor Naik Tipis pada 2019

Defisit tersebut terdiri dari laju impor sepanjang 2019 yang sebesar USD170,72 miliar, sedangkan laju ekspor lebih lambat yakni sebesar USD167,52 miliar.

Kondisi ekspor maupun impor Indonesia yang hanya naik tipis dibanding tahun lalu, dikarenakan permintaan ekspor masih terbatas akibat perlambatan ekonomi dunia dan perang dagang yang masih berlanjut.

3. Penyebab Defisit

Penyebab defisit masih berasal dari migas. Sektor ini menyumbang kinerja defisit sebesar USD9,34 miliar sepanjang 2019, mengecil dari defisit migas di tahun 2018 yang sebesar USD12,69 miliar.

Defisit migas ini terdiri dari minyak mentah yang mengalami defisit sebesar USD4 miliar di tahun lalu, begitu pula dengan hasil minyak yang defisit USD11,73 miliar. Sedangkan untuk gas tercatat mengalami surplus sebesar USD6,39 miliar.

Secara rinci, laju ekspor migas di sepanjang tahun 2019 mencapai USD12,53 miliar, sedangkan laju impor mencapai sebesar USD21,88 miliar.

4. Defisit Desember 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 mengalami defisit tipis yakni USD28,2 juta. Realisasi ini membaik dari posisi Desember 2018 yang mengalami defisit sebesar USD1,07 miliar.

Begitu pula bila dibandingkan secara bulanan, mengalami perbaikan dari November 2019 yang tercatat defisit USD1,39 miliar.

"Jadi realisasi Desember defisit tipis, jauh lebih rendah dari defisit di November 2019," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

5. Perekonomian Global

Menurut Suhariyanto, kinerja ini tak terlepas dari kondisi perekonomian global yang tengah mengalami ketidakpastian. Harga komoditas sepanjang Desember 2019 pun mengalami kenaikan dan penurunan dari November 2018.

Seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi USD67,18 per barel dari bulan sebelumnya USD63,26 per barel. Harga minyak kelapa sawit (CPO) pun naik 12,67% dan karet naik 7,35% di Desember 2019.

6. Upaya Pemerintah Meneken Impor dan Meningkatkan Ekspor

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menilai, kinerja neraca dagang Indonesia sebesar USD USD3,20 miliar sepanjang 2019 terbilang cukup baik. Lantaran, realisasi defisit mengecil bila dibandingkan dengan 2018.

Menurutnya, penurunan defisit tak lepas dari upaya pemerintah untuk menekan impor dan menggenjot ekspor. Salah satunya, melalui kebijakan mandatori B20 yakni pencampuran solar dengan 20% biodesel sejak September 2018.

Hal ini dinilai mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini terus menyumbang defisit dalam neraca dagang Indonesia. " Jadi ini sekarang lagi dijalani semua. Karena impor kan jadi berkurang karena B20," imbuhnya.

7. Dorong Industri untuk Menurukan Defisit Neraca Perdagangan

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan pengembangan sektor industri yang berorientasi ekspor. Upaya ini dinilai akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

“Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,” kata Agus, dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

8. 15 sektor Prioritas Pengembangan

Kementerian Perindustrian sudah memetakan 15 sektor yang akan mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15 sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa sawit dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.

Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta industri kerajinan.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini