Menristek Diminta Lakukan Penelitian Karet Jadi Bahan Bakar

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 19:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 20 320 2155681 menristek-diminta-lakukan-penelitian-karet-jadi-bahan-bakar-e2OyqTuNhr.jpg Ilustrasi Biodiesel. (Foto: Okezone.com/Kementan)

JAKARTA - Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane mengharapkan pemerintah bisa menyambut usulan penerapan karet alam menjadi bahan bakar nabati (BBN), seperti pada komoditas kelapa sawit. Sehingga pemerintah pun bisa segera memfasilitasi penelitian untuk karet.

Menurutnya, hal yang memungkinkan untuk karet menjadi campuran bahan bakar, lantaran biji karet memiliki kandungan minyak yang tinggi yakni mencapai 45,63%. Aziz bilang dirinya bakal mengajukan surat ke Kementerian Riset dan Teknologi (Menristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk dilakukan penelitian.

"Jadi memungkinkan (karet jadi bahan bakar nabati), cuma belum dilakukan penelitiannya. Jadi kami akan kirim surat ke Pak Bambang (Menteri Ristek/Kepala BRIN) supaya kita adakan tim, jangan hanya kelapa sawit dong, karet juga kasih kesempatan," ujar Aziz ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Senin (20/1/2020).

Baca Juga: Petani Tidak Rugi Kalau Karet dan Bijinya Dijadikan Bahan Baku BBN

Menurutnya, tanaman karet dapat menghasilkan 800 biji karet untuk setiap pohon per tahun. Pada lahan seluas 1 hektare (ha), dapat ditanami sebanyak 400 pohon karet. Maka untuk lahan seluas 1 ha diperkirakan dapat menghasilkan 5.050 kilogram (kg) biji karet per tahun.

Adapun rendemen minyak biji karet (kering) tercatat sebesar 40%-50%, sehingga diperkirakan setiap hektare tanaman karet berpotensi menghasilkan 1.000 liter minyak.

Aziz menyatakan, jika nantinya pemanfaatan karet menjadi bahan bakar nabati terealisasi maka bakal meningkatkan serapan karet dalam negeri. Dia bilang, saat ini penyerapan karet masih lebih rendah dari jumlah produksinya.

Baca Juga: Kadin: Bisa Dikembangkan Jadi BBN, Biji Karet Jangan Dianggap Limbah

Setidaknya serapan karet bisa naik 1-2 juta ton per tahun karena menjadi bahan bakar nabati. Adapun pada tahun 2019, produksi karet tanah air tercatat mencapai 3,55 juta ton per tahun.

"Jadi itu (bahan bakar dari karet) bisa habis 1-2 juta atau separuh dari supply karet kita," kata dia.

Dia pun menekankan, selain banyak digunakan untuk industri ban, komoditas karet saat ini juga telah banyak digunakan untuk industri lainnya seperti bahan baku campuran aspal, bantalan jembatan.

"Serta berpotensi untuk pemanfaatan bahan bakar nabati," katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini