nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos BI Sebut Penguatan Rupiah Sejalan dengan Fundamental Ekonomi

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 22 Januari 2020 13:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 22 278 2156598 bos-bi-sebut-penguatan-rupiah-sejalan-dengan-fundamental-ekonomi-S8zYsYdsuY.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, tren penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun, sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Penguatan ini pun memberikan dampak positif bagi para importir dalam negeri.

"BI melihat penguatan Rupiah masih sejalan dengan fundamental, sejalan mekanisme pasar, dan mencerminkan kredibilitas kebijakan dari pemerintah, BI, OJK, dan LPS," kata Perry dalam konferensi pers KSSK di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Baca Juga: Sore Ini, Rupiah Lesu di Rp13.669/USD

Dia menyatakan, fundamental ekonomi Indonesia terjaga baik, seiring dengan tingkat inflasi yang rendah, ekonomi yang terus tumbuh, hingga neraca pembayaran yang diperkirakan surplus. Derasnya aliran modal asing masuk ke dalam negeri turut mengerek nilai tukar Rupiah.

"Jadi ini juga (penguatan Rupiah) masih sejalan dengan mekanisme pasar," imbuh dia.

Perry menjelaskan, penguatan kurs Rupiah bagi Indonesia dapat mendorong peningkatan investasi dalam negeri, lantaran banyak industri yang memiliki kandungan impor tinggi. Penguatan Rupiah memang berdampak positif bagi importir karena membuat ongkos impor menjadi lebih murah.

Baca Juga: Diramal Jadi yang Terkuat, Rupiah Jinakkan Dolar AS ke Rp13.639/USD

Bahkan kondisi penguatan Rupiah secara tak langsung mendorong peningkatan ekspor, khususnya di sektor manufaktur. Biaya impor yang menjadi lebih murah, membuat aktivitas industri manufaktur yang berbasis ekspor lebih terdorong. "Jadi sekarang terlihat ekspor manufaktur juga meningkat," katanya.

Dia menyatakan, kurs Rupiah yang menguat memang berdampak negatif bagi para eksportir komoditas karena hasil dari nilai Rupiah jadi lebih kecil, sebaliknya jika Rupiah melemah maka hasil nilainya akan lebih besar. Meski demikian, Perry menilai ekspor komoditas tak terlalu sensitif terhadap pergerakkan nilai tukar Rupiah, melainkan pada pergerakkan harga dan permintaan di pasar global

"Ekspor komoditas tidak terlalu sensitif terhadap pelemahan Rupiah, lebih sensitif ke permintaan luar negeri dan harga komoditas. Cuma, eksportir memang lebih senang Rupiah melemah, karena nilai Rupiahnya dari hasil ekspor itu lebih besar, jadi bukan nilai jual tapi nilai Rupiahnya," jelas dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan, dirinya ingin kurs Rupiah jangan terlalu cepat menguat. Lantaran, dapat berpengaruh pada penurunan daya saing Indonesia.

"Rupiah kalau menguat terlalu cepat, kita juga harus hati-hati. Ada yang senang dan ada yang tidak senang, eksportir tentu enggak senang. Karena jika Rupiah menguat, menguat, menguat, maka daya saing kita juga akan menurun," kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Ritz Calrton, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Melansir Bloomberg Dollar Index, Rabu (22/1/2020), nilai tukar Rupiah berada di level Rp13.683 per USD. Menguat dari posisi di awal Januari 2020 yang sebesar Rp13.893 per USD.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini