nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Industri Pariwisata China Bakal Terhantam Virus Korona

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Rabu 22 Januari 2020 20:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 22 320 2156774 industri-pariwisata-china-bakal-terhantam-virus-korona-f9gvUiUWc7.jpeg Virus Korona di China (Foto: CNBC)

JAKARTA - Jika virus korona di China berubah menjadi wabah yang berkepanjangan, industri pariwisata di China mungkin akan memburuk.

Berita tentang virus penyebab pneumonia tersebut pertama kali muncul pada akhir Desember di kota Wuhan, China. Sembilan orang meninggal akibat virus ini. Pihak berwenang juga telah mengkonfirmasi lebih dari 400 kasus terjadi akibat virus korona, terutama di China. Tak hanya di China, negara-negara lain juga telah melaporkan penyakit tersebut, termasuk Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Virus Korona China Menyebar, Bagaimana Indonesia Mencegah

Tidak jelas bagaimana ancaman virus ini akan berakhir, tetapi virus ini bisa saja menimbulkan penyakit lain yang mirip dengan sindrom pernafasan akut berat (SARS).

Dampak pada industri pariwisata Setelah industri pariwisata di China tumbuh 12% pada tahun 2002, sepertinya pertumbuhan pariwisata di sana akan memburuk untuk pertama kalinya. Hal ini dikarenakan wabah virus korona yang memasuki negeri tirai bambu tersebut.

"Nilai valuasi perusahaan pariwisata, termasuk situs pemandangan indah, pelaku bisnis perhotelan diperkirakan ratingnya akan menurun 20-50% pada saat ini," kata Kepala Penelitian UBS Sekuritas Eric Lin yang dilansir dari CNBC pada Rabu (22/1/2020).

Baca Juga: Sri Mulyani Antisipasi Dampak Virus Korona ke Perekonomian Indonesia

Pihak berwenang di China telah mengumumkan langkah-langkah untuk membatasi orang datang ke Wuhan. Pada Selasa (21/1/2020), Administrasi Penerbangan Sipil China mengumumkan bahwa maskapai penerbangan harus memproses pengembalian uang untuk penerbangan ke kota secara gratis.

China Southern Airlines paling banyak menerbangkan banyak orang dari Wuhan. Hal ini berdasarkan analis Goldman Sachs Ben Hartwright.

Kapasitas penerbangan domestik China Eastern Airlines untuk Wuhan adalah 2,2%. Sedangkan kapasitas penerbangan Air China sebesar 1,3%, menurut Goldman.

Faktanya, analisis menunjukkan bahwa pendapatan Air China adalah yang paling tidak sensitif terhadap perubahan 1% dalam volume lalu lintas domestik. Sedangkan China Southern Airlines pendapatannya menurun 10,8%.

Dari 10 Januari hingga 18 Februari, orang China diperkirakan akan mengambil sekitar 79 juta penumpang untuk penerbangan.

Dampak ekonomi akibat SARS Untuk ekonomi China secara keseluruhan, sektor jasa paling terpukul selama wabah penyakit SARS pada tahun 2002 hingga 2003. Kepala Ekonom China Nomura Ting Lu mencatat bahwa pertumbuhan PDB riil China turun 2 poin dari 11,1% pada kuartal pertama 2003 menjadi 9,1% pada kuartal kedua, sebelum pulih menjadi 10% pada kuartal ketiga tahun itu.

"Pertumbuhan sebagian besar terseret oleh sektor tersier, terutama oleh dua subkomponen utama PDB: (1) transportasi, penyimpanan, dan pos, dan (2) layanan hotel dan katering," katanya.

China telah meningkatkan ketergantungannya pada sektor jasa untuk pertumbuhan ekonomi. China menyumbang sebesar 59,4% dari PDB pada tahun lalu, menurut data dari Biro Statistik Nasional China yang diakses melalui Informasi Angin.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini