nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri KKP Resmikan Balai Riset Perikanan Perairan Darat Pertama di Asia Tenggara

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 19:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 27 320 2159119 menteri-kkp-resmikan-bali-riset-perikanan-perairan-darat-pertama-di-asia-tenggara-XhkjMGWy4e.jpeg Menteri KKP Edhy Prabowo Resmikan Balai Perikanan Perairan Darat di Palembang. (Foto: Okezone.com/Dok. KKP)

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menginginkan pengetahuan masyarakat terkait budidaya perikanan bisa meningkat dengan hadirnya balai riset perikanan. Seperti hadirnya Balai Riset Perikanan Perairan Umum Daratan atau The Southeast Asian Fisheries Development Center (Seafdec) - Fishery Resources Development and Management Department (IFRDMD) di Palembang, Sumatera Selatan.

Balai riset ini satu-satunya balai perikanan perairan darat di Asia Tenggara. Seafdec-IFRDMD memiliki tiga fungsi utama, mempersiapkan kajian stok ikan beserta wilayah pengelolaannya, konservasi wilayah perairan sebagai plasma nutfah dan pengembangan fish passage atau fish way di Indonesia.

Edhy mengatakan, kajian-kajian di balai riset diharapkan bisa ditransfer dengan baik ke masyarakat. Yang tujuan akhirnya tentu masyarakat, di Sumatera Selatan khususnya, memperoleh pengetahuan yang luas di bidang budidaya perikanan, terutama perairan umum darat.

Baca Juga: KKP Buka Lowongan Jadi Manajer Lapangan, Ini Syaratnya

"Peran Seafdec ini penting untuk mempererat kerja sama kita dengan negara-negara di Asia Tenggara. Walaupun demikian tidak ada gunanya bangunannya mewah, besar, megah tapi hanya lambang. Ilmunya harus bisa ditransfer ke masyakarat," ujar Edhy, dalam keterangannya, Senin (27/1/2020).

Dengan adanya Seafdec ini, Edhy juga berharap bisa terbangun citra Sumatera Selatan sebagai sentra penghasil ikan air tawar di Indonesia, maupun di Asia Tenggara.

"Ikan tembakang digulai pindang, lemak makannya disertai lalapan. Kan dek Sumsel maju berkembang. Ayo kita jaga perairan umum dan daratan," kata Menteri Edhy menutupnya dengan pantun.

Baca Juga: Nindya Karya Buka Lowongan Sekretaris dan Translator Bahasa Korea

Selain meresmikan balai riset tersebut, Edhy melakukan penebaran benih ikan ke sungai yang terletak di belakang kantor Balai Riset Perikanan Perairan Umum Daratan. Ikan yang ditebar adalah ikan nilem (Osteochilus hasselti) sebanyak 5.000 ekor benih dan 2.100 ekor benih ikan tembakang (Helostoma temminckii). Kedua ikan tersebut merupakan ikan asli perairan umum daratan.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, menyampaikan bahwa PUD atau perairan darat di Sumatera Selatan saat ini tercatat menjadi yang terluas di Asia Tenggara dengan mencapai 2,5 juta hektar, yang di dalamnya terdapat 233 jenis spesies ikan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pun berupaya meningkatkan pemanfaatan potensi perikanan tangkap di perairan darat yang hingga kini belum dikelola secara maksimal.

"Dengan adanya Seafdec-IFRDMD/BRPPUPP diharapkan dapat mengoptimalkan potensi perikanan darat Sumatera Selatan dengan membangun suaka ikan yang dipusatkan di science technology centre, kajian potensi perikanan perairan darat, dan menjadikan Sumatera Selatan rujukan jalur ruaya ikan (fish way) yang dipusatkan di wilayah komering," tegasnya.

Adapun inovasi pertama yang dikembangkan yakni aplikasi Data Collection for Fishery Activities (DACOFA). Aplikasi yang dikembangkan oleh Seafdec-Ifrdmd memungkinkan para enumerator melakukan input data secara cepat dan efisien. Dengan hadirnya aplikasi berbasis Android ini, penginputan data ikan menjadi mudah karena dapat dilakukan melalui smartphone, sehingga seluruh data akan terekam dalam satu pusat data.

Output lainnya adalah aplikasi Barrier Tracking System (Batas) yang diciptakan melalui kolaborasi riset antara balai riset dan P2I LIPI.

Batas merupakan aplikasi untuk mengidentifikasi dan memetakan hambatan (barrier) yang ada di sungai Indonesia.

Rencana jangka panjang dari Batas adalah manajemen adapatif untuk pengoperasian bendungan dan penghalang di sungai-sungai Indonesia untuk mencapai pemulihan konektivitas aliran yang lebih efisien dan mengatasi dampak yang disebabkan oleh fragmentasi sungai.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini