nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Telan Rp1,2 Triliun, Pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo Segera Dimulai

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 07 Februari 2020 11:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 07 320 2164783 telan-rp1-2-triliun-pengembangan-bandara-komodo-di-labuan-bajo-segera-dimulai-CvEJwN7SJU.jpg Labuan Bajo (Foto: Okezone.com/Dani Jumadil Akhir)

JAKARTA - Pengembangan Bandara Komodo, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan segera dilakukan dengan nilai Rp1,2 triliun dengan skema Kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Hal tersebut menyusul dengan dilakukannya penandatanganan perjanjian kerjasama antara Kementerian Perhubungan dan PT Cinta Airport Flores (CAF).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, penandatanganan ini merupakan salah satu bukti keseriusan dari pemerintah untuk mendorong Labuan Bajo sebagai salah satu dari 5 destinasi wisata prioritas. Apalagi, saat ini saja Labuan Bajo dengan Pulau Komodonya sudah banyak diminati wisatawan baik dari lokal mupun internasional.

 Baca juga: Presiden Jokowi Harap Semua Bandara Makin Banyak Traffic

Dengan kerjasama ini, rencananya Bandara Komodo akan berubah status menjadi internasional pada Juni tahun ini. Target ini bisa lebih cepat dibandingkan target semula yakni tahun 2021 mendatang.

"Kemenhub akan perpanjangan Bandara sehingga turis Singapura dari Changi harus siap menerbangkan dari Juni," ujarnya dalam acara penandatanganan perjanjian kerjasama di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (7/2/2020).

 Baca juga: Underpass Yogyakarta International Airport Diharap Tingkatkan Turis ke Candi Borobudur

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Rianto mengatakan pembangunan ini akan dilakukan oleh konsorsium CAF. Dalam struktur pemegang saham, CAF berisikan PT Cardig Aero Services Tbk (CASS) memiliki porsi 80% dari total saham CAF, kemudian sisanya dipegang oleh Changi Airports Internasional PTE LTD (CAI) dan perusahaan afiliasinya.

Adapun ruang lingkup kerja sama yang dilakukan meliputi merancang, membangun, dan membiayai pembangunan fasilitas sisi darat, udara, dan pendukung. Nantinya konsorsium ini akan mengoperasikan juga Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo dengan masa konsesi 25 tahun.

 Baca juga: Menhub Minta Penumpang dan Kru Asal China Diperiksa Secara Khusus

Selain itu, konsorsium juga memelihara seluruh infrastruktur dan fasilitas Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo selama masa kerja sama. Pada saat masa kerja sama berakhir, Badan Usaha wajib Menyerahkan seluruh infrastruktur dan fasilitas Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo kepada Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dalam hal ini Dirjen Perhubungan Udara.

Adapun nilai investasi untuk pengelolaan Bandara Komodo-Labuan Bajo sebesar Rp1,2 triliun Denan estimasi total nilai biaya operasional selama 25 tahun Rp. 5.7 triliun

Selanjutnya, Pengelola Bandar Udara Komodo memiliki kewajiban untuk membayar Konsesi dimuka sebesar Rp. 5 miliar. dan Konsesi Tahunan dari Pendapatan Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo sebesar 2,5 % dengan pembayaran bertahap 2 (dua) kali setiap tahun yang kemudian akan meningkat per tahun dengan kenaikan 5 % dari biaya konsesi tahun sebelumnya, serta Clawback sebesar 50%

Adapun cakupan pengembangan Bandar Udara Komodo di antaranya adalah penambahan panjang runway (dari 2250 m x 45 m menjadi 2700 m x 45 m), pengembangan terminal kargo, pengembangan dan ekspansi terminal penumpang domestik dan internasional, pengembangan area komersial, parkir dan fasilitas pendukung lainnya, serta pengoperasian dan perawatan baik airside maupun groundside.

"Berkaitan dengan penandatanganan ini, saya sampikan laporan. Dalam rangka mensukseskan dan menunjang kawasan Labuan Bajo dan menunjang perekonommian masyarakat dari dan ke labuan bajo kami melaksanakan pengelola bandara labuan bajo melalui KPBU dimana hasil pemilihan diterapkan CAS jadi jadi pembang PII jadi penjaminan infrastruktur," ucapnya.

Sementara Direktur Utama PT PII M. Wahid Sutopo mengatakan bahwa penjaminan yang diberikan PT PII pada proyek ini merupakan salah satu fasilitas dari Kementerian Keuangan untuk meningkatkan kelayakan dan kenyamanan investasi bagi investor dan perbankan yang membiayai proyek. Sebagai bandar udara pertama di Indonesia dengan skema KPBU, Bandar Udara Komodo diharapkan menjadi percontohan untuk proyek Bandar Udara yang akan dikembangkan nanti.

Sutopo menambahkan, dengan ditandatanganinya proyek ini, maka PT PII telah memberikan penjaminan pada 23 proyek KPBU maupun Non-KPBU. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kerja sama yang sangat baik dengan Kementerian Perhubungan selaku PJPK, dan tentunya dukungan dari Kementerian Keuangan.

"Dengan skema KPBU dan penjaminan oleh PT PII, diharapkan proyek ini dapat dikembangkan dan terjaga dengan baik sehingga dapat bermanfaat meningkatkan aksesibilitas wisatawan dalam negeri dan luar negeri menuju Labuan Bajo sebagai kawasan destinasi wisata unggulan yang semakin diminati," kata Sutopo.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini