nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Barang Mewah "Terjangkit" Virus Korona, Ini Pengakuan Bos Bulgari

Hairunnisa, Jurnalis · Rabu 12 Februari 2020 15:21 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 12 320 2167360 barang-mewah-terjangkit-virus-korona-ini-pengakuan-bos-bulgari-7Iy88XTpKu.jpg Bulgari (Foto: CNN)

JAKARTA - Virus korona telah memberikan tekanan terhadap pasar barang-barang mewah global, yang menurut para ahli dapat menghambat pendapatan sepanjang tahun 2020.

CEO Bulgari Jean Christophe Babin mengatakan, krisis tidak mengubah pandangan positif perusahaannya terhadap China. Akan tetapi, wabah yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang ini memiliki efek besar pada pendapatan perusahaan.

Baca Juga: Virus Korona, Bank Dunia Tawarkan Bantuan Teknis tapi Bukan Uang

Bulgari memiliki 51 toko di wilayah China. Merek milik LVMH menolak untuk menentukan berapa banyak toko yang beroperasi di mal-mal China, tetapi mengatakan setengah dari toko-toko itu telah ditutup sebagai tindakan terhadap wabah tersebut.

"Apa yang terjadi saat ini di China membatasi pertumbuhan industri (kemewahan global). Fakta bahwa kita bersandar pada e-commerce hanya di China jelas sangat merugikan penjualan. Ini berlaku untuk Bulgari, tapi itu benar, saya percaya, untuk merek apa pun." kata Babin mengutip dari CNN, Rabu (12/2/2020).

Baca Juga: Wabah Virus Korona Bikin Maskapai Penerbangan Dunia Rugi Besar

Merek-merek mewah lainnya telah menghindari mengatakan kepada publik bagaimana coronavirus memengaruhi laba mereka, meskipun mereka telah mempublikasikan sumbangan kemanusiaan dan janji mereka untuk membantu memerangi penyakit ini.

Gucci, Cartier, dan pengecer kelas atas lainnya menolak berkomentar atau tidak mau menanggapi masalah ini. Tiffany & Co. (TIF), yang diakuisisi oleh LVMH, mengkonfirmasi telah menutup beberapa toko di daerah yang terkena dampak di China, tetapi tidak akan mengatakan bagaimana situasinya telah mempengaruhi penjualan globalnya.

"Kami tidak akan membuat pengungkapan lebih lanjut mengenai dampak bisnis sampai hasil Q4 kami dirilis pada 20 Maret," kata juru bicara Tiffany melalui email.

Menurut Babin, perusahaan induk Bulgari, LVMH, menikmati tahun penjualan terbaiknya pada tahun 2019, sebagian besar berkat pasar Cina.

16% perekonomian China sendiri merupakan dari PDB global, dan memiliki dampak yang sangat besar pada sektor barang mewah dunia, yang terdiri sekitar sepertiga dari penjualan industri global.

Perusahaan mewah mungkin paling terpengaruh secara material oleh virus korona yang mengarah pada pengurangan jangka pendek dalam pendapatan per saham untuk investor.

Perusahaan-perusahaan mewah dengan eksposur penjualan 6% hingga 20% di China dapat melihat laba per saham mereka terdilusi sebesar 1% hingga 8% jika wabah tersebut tertahan pada pertengahan 2020. Dillution EPS tambahan sebesar 1% hingga 2% dapat diharapkan untuk setiap bulannya, krisis masih berlanjut setelah itu, kata studi tersebut.

Oliver Chen, salah satu penulis studi tersebut, mencatat bahwa ada penurunan tajam dalam turis asing yang bepergian ke Cina serta lebih sedikit wisatawan China yang membeli barang-barang mewah di negara lain.

"Sebagian besar waktu dalam ritel, ketika konsumen tidak melakukan pembelian, itu berarti Anda memiliki banyak permintaan yang terpendam, tetapi di sektor mewah, Anda kehilangan penjualan, ini tidak tinggi dalam daftar prioritas orang untuk membeli barang-barang mewah ketika Anda memprioritaskan kesehatan dan keselamatan manusia. Faktor risiko dapat bertahan hingga Mei, Juni, Juli atau lebih lama," tambah Chen.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini