nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Krisis Industri Pariwisata Buat Bisnis Kecil di Australia Terganggu

Jum'at 14 Februari 2020 19:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 14 320 2168584 krisis-industri-pariwisata-buat-bisnis-kecil-di-australia-terganggu-95F0WX1iz5.jpg Dolar Australia (Reuters)

JAKARTA - Imbas pariwisata Australia mendekati titik kehancuran, membuat bisnis-bisnis skala kecil terganggu. Pelaku usaha kecil tersebut menggantungkan untung dari para turis.

Mengutip ABC, Jakarta, Jumat (14/2/2020), di kawasan Surf Coast, pemilik cafe yang menjual coklat dan es krim, Great Ocean Road Chocolaterie and Ice Creamery, Leanne Neeland, mengatakan bis-bis turis yang mampir ke tokonya hampir tidak ada sama sekali.

 Baca juga: PNS di Australia Habiskan Jutaan Dolar untuk ke Luar Negeri

"Sudah untung kalau ada satu bis per hari. Itupun turisnya asal Eropa atau turis lokal di dalam bis." kata Neeland.

"Hampir 15-20 persen pengunjug kami setiap hari yang berkurang," ujarnya.

Karena itu, Neeland sudah mengubah jam kerja para stafnya dan sebagian yang biasanya melayani pengunjung dipindahkan untuk membuat coklat.

 Baca juga: Transaksi Tunai Lebih Rp100 Juta di Australia Akan Didenda hingga Masuk Penjara

Tidak jauh dari itu, di kawasan tepi pantai Apollo Bay, kesulitan ekonomi juga mulai dirasakan.

Bis kecil yang membawa turis masih banyak yang datang, namun bis-bis besar berkurang, dari biasanya 20 per hari menjadi sekitar 3 saja.

"Saya hanya bisa berdoa ini tidak berlangsung terlalu lama dan kami segera bisa menyambut kedatangan turis dari China." kata pemilik toko roti Apollo Bay Bakery Sally Cannon.

Turis asal China secara nasional menyumbang 25 persen bagi perekonomian Australia, sementara di Victoria, porsinya lebih tinggi yaitu 39 persen, dengan pengeluaran mereka keseluruhan setahunnya adalah lebih dari Rp 34 T.

Kepala Eksekutif Dewan Industri Wisata Victoria (VTIC) Felicia Mariani.mengatakan turis dari China adalah pasar terbesar bagi Victoria, lebih besar dari sembilan pasar internasional lain digabungkan jadi satu.

 Baca juga: Dapat Bansos Rp380 Ribu/Hari, Warga Miskin Australia Hanya Bisa Makan Sekali

"Kita memiliki banyak operator yang khusus mengkonsentrasikan diri ke pasar China, dimana 50-60 persen bisnis mereka dari pasar China." kata bos VTIC tersebut.

"Banyak bisnis yang mungkin tidak akan bertahan. Bahkan yang sudah lama pun mengalami kesulitan."

VTIC juga memperingatkan dampak ini terhadap lapangan kerja dan ekonomi secara keseluruhan.

Menurut merkea, lebih dari 230 ribu orang secara langsung dan tidak langsung dipekerjakan di industri wisata di Victoria, dengan 92 ribu diantaranya di kawasan regional.

"Diperlukan waktu antara 6 sampai 12 bulan bagi sebagian bisnis untuk menjadi normal lagi, namun beberapa diantaranya mungkin akan mati." kata Mariani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini