nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Virus Korona Hambat Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Banyak Pekerja Asal China

Vania Halim, Jurnalis · Minggu 01 Maret 2020 08:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 29 320 2176127 fakta-virus-korona-hambat-pembangunan-kereta-cepat-jakarta-bandung-banyak-pekerja-asal-china-OexRufWanJ.jpg Ilustrasi Kereta Cepat (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung terus berjalan sesuai dengan rencana. Targetnya pada tahun 2021 kereta cepat tersebut bisa beroperasi.

"Kami fokus mengerjakan konstruksi, targetnya tetap beroperasi 2021," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Budi Karya meyakini, target pengoperasian kereta cepat tersebut bisa di percepat. Menurutnya, kontraktor akan terus di dorong untuk fokus mengerjakan konstruksi.

Berikut Okezone sudah mengumpulkan fakta terkini kereta cepat Jakarta-Bandung, Minggu (1/3/2/2020) :

1. Virus Korona Berdampak pada Pembangunan Konstruksi

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra mengakui adanya dampak wabah virus korona terhadap pembangunan kontruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya, banyak pekerja asal China pada akhirnya tak bisa datang ke Indonesia.

"Ini pengaruh korona, banyak tenaga yang pulang, ternyata level enggak hanya bawah, tapi juga di atasnya, manajemennya. keputusan kan harus cepat," ujar Chandra ditemui di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Dia menyatakan, sekitar 300 pekerja asal China yang terlibat dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tertahan di negaranya. Semua pekerja itu berada di level manajer hingga konsultan.

2. Progres Konstuksi Sudah 45%

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra enggan mengungkapkan target dari penyelesaian kontruksi pada tahun ini. Menurutnya, hingga saat ini progres konstruksi kereta cepat itu sudah mencapai 45%.

Chandra menjelaskan perusahaan akan tetap mendorong kontraktor untuk melakukan pembangunan kontruksi di tengah kondisi saat ini. Pihaknya pun telah meminta kontraktor untuk membuat rancangan yang sesuai terkait kebutuhan pekerja hingga material yang banyak berasal dari China.

"Sudut pandang mereka bentar lagi selesai. Saya tekankan (ke kontraktor), 'anda jangan pikir seperti itu, kayak SARS itu kan 6 bulan juga baru selesai. Jadi kalau enggak dateng (pekerja asal China), bagaimana caranya (mengatasi). Saya push kontraktor bikin plan (perencanaan) sesuai dengan situasi saat ini," jelasnya

3. Relokasi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet)

PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) terus mendorong proses pembebasan lahan untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Direktur Utama KCIC Chandra Dwiputra menyatakan, pembebasan lahan saat ini hampir 100%, hanya satu bidang yang belum terselesaikan.

Meski hampir rampung, pihaknya masih menghadapi kendali terkait relokasi beberapa objek disekitar lokasi proyek. Di antaranya relokasi saluran udara tegangan ekstra tinggi alias tower Sutet.

"PR (pekerjaan rumah) kami ke depan adalah relokasi. Misalnya, relokasi sutet itu ada 32 crossing, saat ini yang kita kerjakan baru 20," ujar Chandra di kantor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat, (21/2/2020).

4. 460 Titik yang Harus Direlokasi

Tak hanya sutet, KCIC juga akan merelokasi tower saluran listrik tegangan menengah, jalan, pipa milik Pertamina dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), hingga sungai. Dia bilang, totalnya ada 460 titik yang harus direlokasi dan tersebar dari Jakarta hingga Bandung.

Oleh sebab itu, proses relokasi ini bakal melibatkan banyak pihak, seperti dinas pemerintah kota dan provinsi setempat, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), PDAM, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Direktur Utama KCIC Chandra Dwiputra menjelaskan relokasi harus diselesaikan sebelum konstruksi prasarana dimulai. Meski demikian, diakuinya proses relokasi tak bisa dilakukan secara sekaligus sebab perusahaan perlu mencari lahan pengganti.

"Seperti tower, itu pindah dari titik sini ke titik lain, pemilik lahan baru kan ada proses b to b (business to business), enggak bisa dengan undang-undang," kata Chandra.

5. Targetnya Akan Selesai 2021

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung terus berjalan sesuai dengan rencana. Targetnya pada tahun 2021 kereta cepat tersebut bisa beroperasi.

"Kami fokus mengerjakan konstruksi, targetnya tetap beroperasi 2021," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Budi Karya meyakini, target pengoperasian kereta cepat tersebut bisa di percepat. Menurutnya, kontraktor akan terus di dorong untuk fokus mengerjakan konstruksi.

6. Pasokan Material Tersendat

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra menyebutkan wabah virus korona (covid-19) menyebabkan pasokan material untuk pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung menjadi tersendat. Lantaran, sebagian material memang berasal dari China, negara di mana virus korona berasal.

Seperti diketahui, wabah virus korona membuat sebagian besar kegiatan ekonomi di negeri itu terhenti. Perusahaan-perusahaan di China menutup sementara kegiatan produksinya, imbasnya pasokan pun berkurang.

"Ada satu hal yang mereka (kontraktor kereta cepat) konsen yakni material. Kalau di sana (China) produksi pabrik belum hidup, itu kendala," ungkapnya di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, jumat (21/2/2020).

7. Bahan Material Menipis

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra menerangkan bahan material yang berasal dari China tak lebih dari 50% untuk kebutuhan proyek kereta cepat. Di antaranya terkait bahan material waterproofing, pipa, dan material teknis lainnya.

 

Bahan material itu diakuinya mulai menipis pasokannya di China maupun Indonesia, sehingga pihaknya sedang mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan material itu

"Kemarin sudah ada beberapa material yang ketemu yang kebetulan stoknya habis, di sini (Indonesia) habis, kita coba minta dari sana (China), terbatas juga. Kalau nggak ada lagi, kita cari bagaimana cara substitusinya," katanya.

8. 3 Pesan Menhub kepada KCIC

Menteri Perhubungann (Menhub) berpesan kepada KCIC sebagai pelaksana proyek agar pekerjaan ini dapat diselesaikan tepat waktu.

"Satu, harus ontime. Yang kedua, mesti ada alih teknologi, dan ketiga adalah jaga hubungan dengan masyarakat banyak dan teamwork harus diperhatikan," ucapnya.

Terkait dengan wabah virus Covid-19 atau corona yang khususnya melanda daratan China, Menhub sudah berkoordinasi dengan KCIC dan memastikan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tetap berjalan sesuai rencana dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal.

9. Cuaca Ekstrem Tidak Memperngaruhi Proses Pengerjaan Proyek

Direktur Utama PT KCIC Chandra Dwiputra memastikan pihaknya telah mengantisipasi adanya sejumlah kondisi tanah yang rawan atau labil di beberapa titik di Jawa Barat. Selain faktor tanah, faktor cuaca ekstrem yang sedang terjadi akhir-akhir ini juga telah diantisipasi oleh PT KCIC. Sehingga diharapkan cuaca ekstrem tidak akan mempengaruhi proses pengerjaan proyek.

"Jadi yang rawan sudah kita mitigasi. Kita sudah antisipasi hal tersebut," jelas Chandra.

10. Waktu Tempuh Jakarta-Bandung Bisa Ditempuh 46 Menit

Saat ini PT KCIC tengah mengerjakan sebanyak 13 Tunnel atau terowongan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Nantinya Kereta Cepat Jakarta Bandung akan memiliki panjang mencapai 142,3 km dengan empat stasiun pemberhentian, yakni Stasiun Halim, Karawang, Walini, hingga Tegalluar, Bandung.

Dari jalur tersebut sebanyak 80 km dibangun layang atau elevated. Sedangkan, sisa jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung digarap di atas tanah yang di antaranya melalui tunnel atau terowongan yang menembus bukit

Dengan keberadaan Kereta ini, waktu tempuh Jakarta – Bandung akan lebih cepat yaitu sekitar 46 menit dengan kecepatan sekitar 350 km/jam.

1
4
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini