Fakta Uang Palsu di Indonesia, Rp100 Juga Dipalsukan

Vania Halim, Jurnalis · Minggu 01 Maret 2020 10:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 29 320 2176134 fakta-uang-palsu-di-indonesia-rp100-juga-dipalsukan-jOVzCDrcAu.jpeg Uang Palsu (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memusnahkan sebanyak 50.087 lembar uang palsu denominasi Rupiah, yang terdiri atas pecahan Rp100.000 sampai dengan Rp100. Hal ini sebagai salah satu upaya BI melindungi masyarakat dari peredaran uang palsu.

Secara rinci, 50.087 lembar uang palsu tersebut terdiri dari pecahan Rp100.000 sebanyak 19.026 lembar, Rp50.000 sebanyak 28.823 lembar, Rp20.000 sebanyak 1.338 lembar, Rp10.000 sebanyak 550 lembar, Rp5.000 sebanyak 146 lembar, Rp2.000 sebanyak 2 lembar, Rp500 sebanyak 3 lembar, dan Rp100 sebanyak 3 lembar.

Uang-uang palsu tersebut mencakup pecahan yang diterbitkan dari beragam tahun. Adapun pemusnahan uang Rupiah palsu ini dilaksanakan berdasarkan surat penetapan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 01/Pen.Mus.Pid/2019/PN.Jkt.Sel tanggal 27 Agustus 2019.

Berikut Okezone sudah mengumpulkan fakta uang palsu dimusnahkan :

1. Uang Palsu Bukan Barang Bukti Kasus Pemalsuan Uang

Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Yudi Harymukti menjelaskan, uang palsu tersebut merupakan hasil temuan dari proses pengolahan uang dan klarifikasi masyarakat di BI selama Januari 2017-Januari 2018. Dengan demikian, bukan barang bukti kasus tindak pidana pemalsuan uang.

"Ini merupakan langkah untuk melindungi masyarakat dari uang palsu yang sudah ditemukan tidak kembali lagi ke masyarakat," ujar Yudi dalam acara Pemusnahan Uang Palsu di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

2. Peredaran Uang Palsu Membuka Kerugian untuk Perekonomian Nasional

Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Yudi Harymukti menjelaskan peredaran uang palsu membuat kerugian bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Di samping itu, juga merendahkan kehormatan Rupiah sebagai salah satu simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Jadi salah satu tantangan BI dalam pengelolaan Rupiah adalah pemalsuan Rupiah, ini harus kita cegah dan kendalikan," ujarnya dalam acara Pemusnahan Uang Palsu di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

3. Terus Melakukan Upaya Penanggulangan Uang Palsu

Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Yudi Harymukti menjelaskan akan terus melakukan upaya penanggulangan uang Rupiah palsu, baik dari sisi preventif melalui penguatan kualitas unsur pengaman, sosialisasi, dan edukasi mengenai ciri keaslian uang. Ini untuk untuk melindungi masyarakat dari risiko menjadi korban penerimaan uang Rupiah palsu.

"Serta mendukung upaya represif untuk memberikan efek jera kepada pelaku pemalsuan uang melalui kerja sama dengan aparat penegak hukum," kata Yudi.

4. Peredaran Uang Palsu Menurun

Bank Indonesia (BI) menyebut adanya penurunan jumlah peredaran uang palsu denominasi Rupiah di dalam negeri. Hal itu dilihat dari rasio uang palsu terhadap uang asli yang menurun di 2019 dari tahun 2015.

Pada tahun 2015, rasio uang Rupiah palsu sebagai tolok ukur tingkat pemalsuan uang tercatat sebesar 11 lembar per 1 juta uang yang beredar (piece per million). Rasio tersebut menunjukkan bahwa dalam setiap satu juta lembar uang Rupiah yang diedarkan, ditemukan 11 lembar uang Rupiah palsu.

Namun jumlah itu menurun, pada tahun 2019 rasionya menjadi sebesar 8 lembar per 1 juta uang yang beredar. Artinya, dalam setiap satu juta lembar uang Rupiah yang diedarkan, ditemukan 8 lembar uang Rupiah palsu.

"Jadi terdapat penurunan sebanyak 3 piece per million (sejak 2015 ke 2019)," ujar Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Yudi Harymukti dalam acara Pemusnahan Uang Palsu di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

5. Pulau Jawa Wilayah Temuan Uang Palsu Terbanyak

Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri) mengungkapkan, Pulau Jawa menjadi wilayah dengan temuan kasus uang palsu terbanyak. Teranyar, ditemukan jaringan peredaran uang palsu dengan nilai Rp3,4 miliar.

"Kalau sampai saat ini paling banyak diungkap di Pulau Jawa, di wilayah (luar Pulau Jawa) ada, tetapi tidak sebanyak yang di Pulau Jawa," ujar Kasubdit Uang Palsu Bareskrim Polri Victor Togi Tambunan dalam acara Pemusnahan Uang Palsu di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Sepanjang Januari-Februari 2020, pihak Kepolisian berhasil mengungkapkan jaringan uang palsu di Jakarta, Bekasi, Bogor, Wonosobo, dan Magelang dengan nilai Rp3,4 miliar. Terdiri dari 21.700 lembar uang palsu dengan pecahan Rp50.000, Rp100.000, dan USD100.

6. Masyarakat juga Harus Ikut Terlibat dalam Melaporkan Kasus Uang Palsu

Kasubdit Uang Palsu Bareskrim Polri Victor Togi Tambunan menyatakan dalam menindak kasus uang palsu sangat diperlukan kerjasama dan kesadaran dari masyarakat, yang menurutnya hingga saat ini masih rendah. Dia bilang, masyarakat masih enggan atau takut untuk melakukan pelaporan mengenai temuan uang palsu.

"Kami masih mengandalkan penyelidikan kami. Kalau masyarakat aktif memberikan informasi, tentunya kita akan lebih banyak lagi mengungkap peredaran uang palsu," ujar Victor.

Dia pun memastikan, pihaknya akan terus berupaya dalam mengawasi dan menindak tegas pelaku uang palsu yang meresahkan masyarakat, terlebih sudah mendekati Lebaran dan adanya Pilkada 2020. "Sehingga dikhawatirkan akan ada penyebaran uang palsu," tutupnya.

7. Temuan Uang Palsu dengan Nominal Kecil

Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Yudi Harymukti pun mengaku heran, karena temuan uang palsu terdapat dengan pecahan nominal yang kecil. Padahal, umumnya pemalsuan dilakukan oleh para pelaku pada pecahan nominal besar.

"Ini agak kurang normal, karena umumnya dipalsukan itu pecahan besar," ujar dia dalam acara Pemusnahan Uang Palsu di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Menurutnya, pemalsuan pada uang pecahan kecil tersebut dilakukan para pelaku dengan tujuan tetentu yang menguntungkan bagi mereka. Meski demikian, dia menekankan pemalsuan pada uang pecahan kecil maupun besar diberlakukan penegakan hukum yang setara.

"Padahal risikonya apabila diungkap oleh penegakan hukum, itu hukumannya sama saja. Tidak memandang nilai yang dipalsukan," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini