nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

8 Catatan YLKI Soal Kenaikan Tarif Ojek Online, Apa Saja?

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 10 Maret 2020 14:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 10 320 2181033 8-catatan-ylki-soal-kenaikan-tarif-ojek-online-apa-saja-jMy7GxGGJj.jpg Ojek Online (Okezone)

JAKARTA - Kementerian Perhubungan akhirnya memutuskan besaran tarif baru ojek online. Dalam keputusan tersebut, nantinya akan ada kenaikan pada Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menjelaskan bahwa Kenaikan tarif ojek online ini memang dari besaran yang disampaikan dari persentase kenaikan masih dalam koridor keterjangkauan ATP (Ability to Pay) konsumen.

 Baca juga: Tarif Ojol Naik, Pelayanan Bakal Lebih Baik?

"Di sisi lain kita mendorong WTP (Willingness to Pay) konsumen dari segi pelayanan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Dirinya pun juga menyatakan bahwa ada delapan catatan dari YLKI terkait penyesuaian biaya jasa Ojol tersebut. Berikut catatan YLKI:

 Baca juga: Tarif Ojol Naik Rp250 per Km, Berlaku 16 Maret

1. Kebijakan kenaikan tarif ini jangan sampai dilakukan karena adanya demonstrasi dari pengemudi atau yang lainnya. Sebagai kebijakan publik tidak baik jika dilakukan akibat tekanan massa, kenaikan tarif harus berbasis kebutuhan.

2. Sepeda motor itu adalah moda transportasi yang tingkat safety-nya paling rendah, baik sebagai kendaraan pribadi apalagi sebagai kendaraan umum. Ini harus menjadi catatan keras untuk kita semua.

3. Dalam transportasi roda 2 khususnya ojek online yang utama adalah aspek safety bagi pengguna dan pengemudi.

 Baca juga: Tarif Ojek Online Naik Lagi, Ini Besarannya

4. Selain safety, pelayanan pun harus diberikan semaksimal mungkin. Seperti dulu pada awal munculnya ojek online selalu ada masker dan penutup kepala, sekarang harap dikembalikan seperti semula.

5. Terkait manajerial, kalau ada tim efisiensi hubungan kontraktual antara pengemudi dan aplikator akan lebih baik, kurang adil jika dibebankan pada penumpang misalnya menyangkut besaran potongan atau dampak sosial dari ojek online termasuk supply and demand.

6. Pada titik tertentu ojek online akan kita posisikan sebagai transportasi pengumpan. Kalau angkutan massal sudah siap seperti MRT, LRT, BRT, maka ojek online akan menjadi pengumpan untuk kendaraan tersebut.

7. Dari sisi keselamatan, improvisasi dari aplikator terus kita dorong salah satunya kualitas kendaraan, juga kualitas pengemudinya.

8. Perlindungan dari sisi asuransi untuk menjamin pengemudi dan penumpang dengan asuransi, minimal Jasa Raharja.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini