Stimulus Fiskal Tak Cukup Dorong Daya Beli Masyarakat di Tengah Korona

Kamis 12 Maret 2020 13:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 12 20 2182186 stimulus-fiskal-tak-cukup-dorong-daya-beli-masyarakat-di-tengah-korona-ozNKGrr0gZ.jpg Grafik Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah memberikan stimulus dengan menanggung pajak penghasilan karyawan (PPh Pasal 21), pajak penghasilan badan usaha (PPh pasal 25) dan bea masuk pajak impor (PPh Pasal 22). Diharapkan pembebasan pajak ini bisa meningkatkan daya beli masyarakat di tengah mewabahnya virus korona.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira , stimulus ini tidak akan meningkatkan konsumsi, namun hanya mempertahankan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Penerimaan Negara Berkurang Berapa bila Pajak Penghasilan Dibebaskan?

Relaksasi pajak semacam ini tidak hanya dilakukan Indonesia, namun negara-negara lain yang terjangkit virus korona. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menerapkan stimulus fiskal.

“Hal ini dilakukan untuk antisipasi lemahnya perekonomian akibat wabah virus korona,” ujar dilansir dari BBC Indonesia, Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Baca Juga: Awal April, Pembebasan Pajak Penghasilan Mulai Berlaku

Namun demikian, stimulus fiskal ini dianggap tidak akan cukup efektif meredam perlambatan ekonomi akibat virus korona. Selain memberikan stimulus fiskal, pemerintah semestinya juga memberikan stimulus moneter, seperti menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia dan memberikan kredit murah kepada masyarakat.

"(Stimulus) fiskal nggak cukup. Ini perlu gabungan fiskal dan moneter, misalnya bunga kredit yang lebih murah. Jadi Bank Indonesia harusnya bisa support dengan menurunkan suku bunga acuannya lebih agresif," ujarnya.

"Fiskal jalan, moneter juga support. Kalau fiskal sendiri nggak kuat," lanjut Bhima.

Dia mengungkapkan wabah corona telah mengganggu rantai pasok ekspor dan impor di seluruh dunia. Sementara, perdagangan Indonesia selama ini bergantung pada China yang ekonominya terpukul akibat wabah yang bermula di negara itu.

"Faktor virus corona ini kita melihat gangguan pada rantai pasok hampir terjadi pada semuanya, mau ekspor-impor semua terdampak, investasi juga terdampak. Sehingga 1% pertumbuhan ekonomi China itu akan berdampak 0,3% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini