Fakta Soal Masker, Larangan Impor hingga Kenaikan Harga

Vania Halim, Jurnalis · Senin 16 Maret 2020 08:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 15 320 2183735 fakta-soal-masker-larangan-impor-hingga-kenaikan-harga-ZC9YSEvWnZ.jpg Waspada Virus Korona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Masker menjadi barang yang banyak dicari semenjak pengumuman adanya warga negara Indonesia dinyatakan positif virus Korona pada 2 Maret 2020.

Seiring isu virus Corona yang semakin mengkhawatirkan, pemberitaan tentang kelangkaan dan mahalnya masker mulut juga meningkat. Berdasarkan riset iPrice Insight, masker memiliki harga yang berbeda-beda. Data itu menggunakan sampel harga produk masker mulut jenis bedah dan N95 selama bulan Januari 2020 dari berbagai merchant e-commerce Indonesia.

Harga jual rata-rata satu kotak masker N95 pada tanggal 1 Januari berada pada kisaran Rp458 ribu. Menariknya, masker ini mengalami penurunan harga hingga minus 24% ketika memasuki minggu kedua Januari.

Berikut Okezone telah mengumpulkan fakta soal masker, Senin (16/3/2020) :

1. Kenaikan Harga Masker N95 Mencapai Rp599.000

Kenaikan harga masker N95 pertama kali terjadi saat berkembangnya kasus Corona di beberapa negara Asia, temasuk Thailand, Singapura, dan Malaysia. Tapi selisihnya tidak begitu signifikan, masih berada di kisaran Rp300 ribuan per kotak.

Harga masker ini mulai menggila ketika memasuki 3 hari terakhir bulan Januari. Tanggal 30 Januari menjadi periode tertinggi kenaikan harga masker N95 yakni Rp559 ribu untuk satu kotak masker.

2. Masker Bedah Dijual di bawah Rp60.000

Lain lagi dengan masker bedah. Harga rata-rata satu kotak masker bedah mengalami kenaikan untuk pertama kalinya pada tanggal 11 Januari 2020, menembus Rp63 ribuan. Sebelumnya, rataan harga masker bedah masih berada di bawah kisaran Rp60 ribuan.

Masker bedah kembali naik cukup drastis pada periode 3 hari terakhir bulan Januari. Kisaran harga tertinggi ditemukan pada tanggal 30 Januari 2020, yakni Rp84 ribuan. Harga ini berselisih 39% lebih tinggi dibanding harga rataan pada 1 Januari.

Kenaikan harga masker N95 dan masker bedah agaknya dipengaruhi oleh stok yang makin menurun dari pekan ke pekan di bulan Januari.

3. Panic Buying Terhadap Masker

Fenomena panic buying terhadap masker mulut terjadi di awal Maret 2019. Kepanikan merebak setelah dua Warga Negara Indonesia (WNI) dinyatakan positif terkena Virus Korona atau Covid-19.

Sesaat setelah diinformasikan, permintaan masker dan hand sanitizer terus melonjak tajam. Pembelian dua item tersebut di toko maupun supermarket membeludak. Kondisi serupa juga terjadi di toko online. Hukum pasar pun terjadi, di mana bila permintaan meningkat harga akan mengikuti. Harga pun langsung meroket. Dari yang biasanya di bawah Rp100 ribu untuk satu dus berbagai merek, menjadi Rp300.000 per berbagai merek.

Melacak antusiasme masker mulut, dikutip dari iPrice yang merujuk pada data Google Trends, pencarian "masker mulut" sepanjang awal hingga pertengahan bulan Januari 2020 di Indonesia tercatat, tergolong statis.

4. Cari Bahan Baku dari India

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan akan memproduksi 6 juta masker pada April 2020. Angka ini untuk memenuhi stok masker dalam negeri yang langka akibat virus korona.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pihaknya sedang meminta bahan baku masker dari China. Mengingat pasokan bahan baku dari China sudah distop karena semakin meluasnya wabah virus korona di negeri Tirai Bambu tersebut.

Selain itu, pihaknya juga tengah mencari bahan baku masker dari negara lainnya seperti India. Apalahi, wabah virus korona kini sudah meluas ke Eropa.

5. Seluruh Perusahaan Wajib Meningkatkan Perlindungan Pekerja

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah kembali mengingatkan kepada para pimpinan perusahaan di seluruh Indonesia agar menerapkan sejumlah langkah antisipasi dan pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan kerja.

Ida juga meminta perusahaan untuk lebih massif dalam sosialisasi dan edukasi tentang penyebab dan media penularan virus corona, berikut langkah-langkah pencegahannya.

"Kita terus mengimbau perusahaaan untuk tetap waspada dan meningkatkan upaya perlindungan pekerja, pengusaha itu sendiri, maupun masyarakat sekitar terkait virus corona," kata Menaker Ida dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

6. Upaya Pencegahan Korona

Adapun langkah-langkah tersebut diantaranya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap peraturan perundangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam upaya pencegahan kasus Corona.

"Jadi perusahaan harus memiliki dan mengimplementasikan Sistem Manajemen K3, khususnya terkait antisipasi virus corona terutama di lingkungan kerja" kata Menaker.

Selain itu, kata Menaker Ida, baik pengusaha maupun pekerja, diimbau untuk tetap menjalankan aktifitas kerja dan ikuti prosedur kesehatan yang telah disosialisasikan pemerintah.

7. Perusahaan Wajib Sediakan Fasilitas Perlindungan Seperti Masker

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menambahkan, pemerintah juga mewajibkan pimpinan perusahaan di seluruh Indonesia untuk menyediakan fasilitas jaminan pelindungan tenaga kerja dari pandemik corona.

Jaminan perlindungan yang dimaksud adalah tersedianya sejumlah fasilitas perlindungan dan antisipasi penyebaran virus, berupa masker, hingga sarana cuci tangan, di setiap perkantoran, pabrik dan tempat kerja di seluruh Indonesia.

"Hal ini dimaksudkan untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan para pekerja dalam menjalankan tugasnya," kata Menaker.

8. Larang Ekspor Masker

Kementerian Perdagangan bakal segera menerbitkan aturan larangan ekspor masker. Larangan ini untuk mengantisipasi kelangkaan masker di dalam negeri imbas virus Korona.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, pemerintah bakal menjamin kebutuhan masker di dalam negeri. Oleh karena itu, dirinya meminta kepada seluruh pelaku industri untuk mengutamakan pemenuhan stok di dalam negeri.

Hanya saja, dirinya tidak menyebutkan kapan aturan tersebut akan dikeluarkan. Selain itu, juga tidak menjelaskan apakah aturan tersebut nantinya akan berupa Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah atau bahkan Peraturan Presiden.

Agus menambahkan, larangan ini akan bersifat sementara. Sebab, jika produksi dan stok masker kembali normal atau bahkan surplus, dirinya mempersilakan produsen masker untuk melakukan ekspor kembali.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini