Perang Harga Minyak dan Virus Corona Gerus Harga CPO

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Selasa 17 Maret 2020 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 17 320 2184671 perang-harga-minyak-dan-virus-corona-gerus-harga-cpo-kxq0Hd9Au4.jpg Industri kelapa sawit (Foto: Okezone.com)

MEDAN – Perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia telah menyebabkan pelemahan harga minyak mentah dunia. Pelemahan harga minyak itu juga telah menggiring pelemahan pada sejumlah harga komoditi lainnya, termasuk minyak sawit mentah (CPO).

Bulan lalu harga minyak mentah sempat bertengger di posisi USD50 per barel. Saat ini harganya sudah di kisaran USD 29-30 per barelnya.

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin menyebutkan, penyebaran virus corona di sisi lain membuat ekspektasi konsumsi minyak diyakini akan mengalami penurunan dalam waktu dekat ini. Penurunan aktivitas ekonomi di tambah perang harga minyak memicu pelemahan harga minyak itu sendiri.

Baca Juga: Ekspor CPO Februari Kena Bea Keluar USD18/Mt

“Jika harga minyak menyentuh USD20 per barel, maka sejumlah produsen minyak mentah yang memiliki biaya produksi ditasnya USD20 berpeluang mengalami krisis ekonomi,” sebut Gunawan, Selasa (17/3/2020)

Bagi Indonesia khususnya Sumatera Utara sebagai produsen CPO, pelemahan harga minyak mentah tersebut telah memicu terjadinya penurunan harga CPO. Saat ini CPO dijual di kisaran harga RM 2.220 per tonnya.

“Trennya terus mengalami penurunan. Ditambah dengan buruknya kondisi ekonomi global belakangan ini. Besar kemungkinan harga CPO masih akan melanjutkan tren pelemahan,”terangnya.

Namun di tingkat petani, harga CPO tidak sepenuhnya akan membuat harga TBS sawit akan mengalami penurunan yang sama. Sejauh ini, pelemahan harag CPO justru dibarengi dengan pelemahan mata uang Rupiah yang saat ini bertengger di level Rp15.015 per USD.

Baca Juga: RI Geber Ekspor Minyak Sawit dan Batu Bara ke India

“Pelemahan mata uang tersebut diyakini akan membuat harga TBS di tingkat petani tidak mengalami penurunan harga yang signifikan,”tukasnya.

Pelemahan Rupiah, kata Gunawan, akan menjadi bumper bagi harga sawit. Walau demikian tren pelemahan harga CPO belakangan dan pelemahan Rupiah secara keseluruhan memberikan dampak buruk bagi harga TBS itu sendiri.

Dan semua sentimen global yang ada di pasar adalah sentimen negatif ditambah serangan corona yang bisa saja membuat harga turun lagi.

“Ada sejumlah masalah serius pada ekonomi global. Sehingga kearifan petani diharapkan di sini. Penurunan harga sawit bukan karena buruknya fundamental ekonomi kita, melainkan banyak faktor yang memicu pelemahan harga tersebut. Dan didominasi oleh faktor luar,” tandasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini