Rupiah Anjlok hingga Rp16.000, Sama dengan Krisis 1998?

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 20 Maret 2020 17:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 03 20 278 2186550 rupiah-anjlok-hingga-rp16-000-sama-dengan-krisis-1998-PJiKrvpQCF.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Kurs Rupiah hari ini makin terpuruk bahkan sudah melewati level Rp16.000 per USD. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), Jumat (20/3/2020), Rupiah berada di posisi Rp16.273 per USD.

Kondisi pelemahan Rupiah hari ini nyaris mendekati level Rupiah saat krisis 1998. Namun apakah benar kondisi Rupiah hari ini bisa disamakan dengan 1998?

Baca Juga: Breaking News: Kurs Rupiah Ambyar, Anjlok ke Level Rp16.273/USD

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menegaskan, kondisi Rupiah dan perekonomian Indonesia saat ini jauh berbeda dengan krisis 1998. Dia menjelaskan, krisis 1998 berawal dari krisis mata uang Thailand Bath yang diperburuk dengan pengelolaan utang luar negeri swasta yang tidak prudent.

Saat itu, sebagian utang luar negeri swasta tidak dilindungi nilai, penggunaan utang jangka pendek untuk pembiayaan usaha jangka panjang, serta utang luar negeri yang dipergunakan untuk pembiayaan usaha yang berorientasi domestik. Krisis utang luar negeri swasta tersebut yang mendorong tekanan pada rupiah dimana tingkat depresiasi rupiah mencapai sekitar 600% dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, yaitu dari Rp2.350 per USD menjadi Rp16.000 per USD.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp16.354/USD, Kenapa BI Cuma Turunkan Suku Bunga 0,25%?

“Meskipun sebagian besar nilai tukar negara berkembang termasuk rupiah cenderung melemah terhadap dollar AS, namun kondisi ini masih jauh dari krisis 1998. Kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kondisi fundamental pada tahun 1998,” kata Josua kepada Okezone, Jumat (20/3/2020).

Jika melihat kondisi fundamental Indonesia pada tahun ini, lanjutnya, pengelolaan utang luar negeri swasta cenderung lebih berhati-hati. Apalagi Bank Indonesia sudah mewajibkan transaksi lindung nilai bagi korporasi dalam rangka mengelola risiko nilai tukar. Pengelolaan yang lebih baik dari utang luar negeri swasta terlihat dari pertumbuhan utang jangka pendek yang cenderung rendah.

Dari sisi peringkat hutang, pada tahun 1998, peringkat utang pemerintah Indonesia sangat rendah yakni junk bond sehingga pemerintah harus berutang dengan premi yang sangat mahal. Sementara kondisi peringkat utang pemerintah Indonesia saat ini sudah Layak Investasi oleh seluruh lembaga pemeringkat internasional.

“Ini menunjukkan keyakinan lembaga internasional masih terjaga terhadap kinerja perekonomian Indonesia yang resilient dan solid yang didukung oleh koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang prudent serta didukung reformasi kebijakan struktural di sektor riil yang mendorong kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah-panjang,” jelas dia.

Meseki level rupiah saat ini menyamai level rupiah pada saat krisis 1998, tingkat depresiasi rupiah saat ini sekitar 17% year to date (JISDOR: 16.273 per USD) lebih rendah dibandingkan tingkat depresiasi rupiah ketika krisis 1998 yang mencapai 600%. Artinya kondisi fundamental perekonomian Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1998.

“Dengan harmonisasi pelonggaran kebijakan moneter oleh BI serta berbagai stimulus fiskal dan non-fiskal yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka mengantisipasi dampak ekonomi dari Covid 19, diperkirakan akan membatasi pelemahan rupiah lebih lanjut,” ungkapnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini