Share

Multiplier Effect Anjloknya Industri Pariwisata Akibat Virus Corona

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 04 April 2020 10:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 04 320 2194020 multiplayer-efek-anjloknya-industri-pariwisata-akibat-virus-corona-Ew31GqcBA0.jpg Industri Pariwisata Terdampak Virus Corona. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Berdasarkan laporan McKinsey Februari 2020 minimal ada enam sektor industri yang berdampak akibat virus covid-19 yaitu industri pariwisata, penerbangan, otomotif, minyak dan gas bumi, consumer goods dan elektronik. Industri pariwisata dan industri penerbangan pun sangat berkaitan erat.

Dosen Magister Manajemen Kalbis Institute Jakarta Ferryal Abadani menerangkan dampak virus corona terhadap industri pariwisata, di mana Indonesia sebagai tujuan wisata dunia seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta dan daerah lainnya akan mengalami penurunan wisatawan asing.

Baca Juga: Menparekraf Bakal Realokasi Anggaran demi Tangkal Virus Corona

Banyak penerbangan yang membatalkan jadwal penerbangan khususnya dari China atau menuju China. Padahal wisatawan dari China jumlahnya melebihi 1 juta orang di tahun 2019 dan di Januari 2020 terdapat 181.281 wisatawan dari China mengalami kenaikan 17.58 % dibandingkan Januari 2019.

“Wisatawan negara lain banyak yang menunda berpergian karena jika menggunakan pesawat maka pesawat dan bandara adalah tempat berkumpulnya orang dari berbagai negara. Bandara di seluruh dunia sebagai pintu masuk utama wisatawan menjaga dengan ketat agar bisa mendekteksi orang yang terpapar virus covid-19,” tulisnya, Sabtu (4/4/2020).

Baca Juga: Wishnutama Sebut Sektor Pariwisata Paling Pertama Terdampak Corona

Kemudian, Arab Saudi melarang sementara untuk jamaah Indonesia untuk melaksanakan ibadah umroh. Ini menambah beban berat bagi tour dan travel yang memang hanya menjalani usaha umroh.

“Biaya tiket, hotel dan katering yang sudah di setorkan kepada pihak terkait di Arab Saudi menjadi tidak pasti,” katanya.

Industri pariwisata pun kian tertekan setelah pengumuman Presiden Joko Widodo bahwa ada yang terkena virus covid-19. Masyarakat lebih berhati-hati untuk menjaga agar tidak tertular virus covid-19 ini.

Masyarakat banyak yang membeli bahan makanan di supermarket untuk berjaga-jaga jika ada larangan keluar rumah. Masker menjadi barang langkah dan mahal. Bahkan di berita penumpang kereta komuter dan bis transjakarta banyak yang menggunakan masker walau kata Menteri Kesehatan penggunaan masker hanya bagi yang sakit saja.

“Masyarakat saat ini masih menunggu perkembangan situasi dan kondisi virus-covid 19. Efek diskon maskapai penerbangan banyak yang belun memanfaatkannya. Masyarakat akan berpergian seperlunya saja seperti jika ada tugas kantor atau ada keperluan penting dengan sanak saudara,” ujarnya.

Untuk berpergian dalam rangka wisata sepertinya belum berdampak. Masyarakat masih menunda untuk berwisata. Uang atau dana masyarakat masih di simpan dibank untuk jaga-jaga jika ada resesi ekonomi.

Ketika industri wisata pengalami penurunan maka selain industri transportasi akan berdampak ke perhotelan, rumah makan dan pusat oleh-oleh ataupun souvenir. Suplai bahan makanan akan berkurang sehingga petani dan peternak pun akan terkena dampaknya.

Pengerajin souvenir akan mengalami penurunan penjualan. Belum lagi efek bagi masyarakat disekitarnya seperti tukang parkir dan pedagang kecil seperti tukang bakso, minuman dan mie instan. Multiplayer efek ini yang akan menyebabkan lesunya perekonomian khususnya di daerah-daerah wisata.

Menurutnya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus bisa mengantisipasi semua ini. Kepercayaan masyarakat dalam hal kemampuan pemerintah mengendalikan virus covid-19 menjadi perhatian utama.

“Jika tidak bisa mengendalikan virus covid-19 maka keaadannya akan makin buruk. Jika kepercayaan masyarakat tinggi maka minimal wisatawan domestik akan kembali menggeliat dan tumbuh,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini