Konsumsi Listrik Berkurang, Harga Batu Bara Indonesia Turun Jadi USD65,77 per Ton

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 06 April 2020 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 06 320 2194857 konsumsi-listrik-berkurang-harga-batu-bara-indonesia-turun-jadi-usd65-77-per-ton-5qt056PJNc.jpg Harga Batu Bara Acuan Turun. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penurunan harga batu bara acuan (HBA) April 2020. Hal ini karena berkurangnya konsumsi listrik di negara-negara terdampak Covid-19, mengakibatkan permintaan batu bara di negara-negara turun sehingga berdampak pada terjadinya sedikit over supply batu bara secara global.

Hal ini mempengaruhi penurunan empat indeks harga batubara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5.900 pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Tak Selalu Diekspor, PTBA-Pertamina Olah Batu Bara Jadi Metanol

“Rata-rata indeks bulanan ICI turun 2,66%, Platt's turun 2,75%, GCNC turun 1,77%, NEX turun 0,66%. Karena keempatnya mengalami penurunan maka Harga Batubara Acuan (HBA) yang dipengaruhi keempat indeks tersebut dipastikan juga ikut turun,” ungkap Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi, dalam keterangan tertulisnya (6/4/2020).

Agung membenarkan bahwa turunnya indeks harga batu bara ini terjadi salah satunya dipicu demand listrik yang berkurang di negara-negara terdampak pandemi Covid-19.

Baca Juga: Tambang di China Belum Normal, Harga Batu Bara Naik USD0,19/Ton

“Kebijakan Work From Home di beberapa negara mengakibatkan konsumsi listrik di beberapa ibukota dan pusat bisnis menurun yang berpengaruh pada turunnya permintaan batubara,” lanjut Agung.

Agung menyebut, nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.

“Dari perhitungan rata-rata keempat indeks tersebut, angka HBA diusulkan menjadi USD65,77 per ton, atau turun USD1,31 dari HBA Maret yang ada di angka USD 67,08 per ton,” papar Agung.

Sejak turun bulan Januari 2020 yang mencatatkan angka USD65,93 per ton (turun dari USD66,30 di Desember 2019), HBA mengalami fluktuasi, naik di Februari (USD66,89) dan Maret (USD67,08), dan kembali turun di bulan April 2020 ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini