Selain Dilarung ke Laut, ABK yang Meninggal di Kapal Bisa 'Dibekukan'

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 320 2210488 selain-dilarung-ke-laut-abk-yang-meninggal-di-kapal-bisa-dibekukan-FHc4XCteev.jpg Cuplikan Kru Kapal China saat Melakukan Pelarungan Jenazah ABK WNI (Foto: Youtube/MBC News)

JAKARTA - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menyatakan, aturan penanganan ABK yang meninggal saat sedang berlayar sudah diatur dalam dalam ILO Seafarer’s Service Regulation, Circular letter International Maritime Organization (IMO) No.2976 2 July 2009.

Aturan ini mengenai Voluntary implementation of IMO resolution A.930 (22) concerning Guidelines on provision of financial security in case of abandonment of seafarers and of IMO resolution A.931(22) concerning Guidelines on shipowners’ responsibilities in respect of contractual claims for personal injury to or death of seafarers ketentuan Internasional (international medical guide for ships) maupun Nasional (KUHD) yang menyebutkan salah satu penanganan jenazah dilakukan dengan melarungkan ke laut.

Baca Juga: Viral Video ABK WNI Dilarung di Laut, Bagaimana dengan Hak Gaji dan Asuransinya?

Selain dilarung ke laut, ada penanganan lain jika memang diduga jenazah tersebut berpotensi menyebarkan penyakit berbahaya bagi ABK lain yaitu dapat disimpan di dalam freezer sampai tiba di pelabuhan berikutnya (jika kapal memiliki freezer), atau jenazah dapat dikremasi dan abunya diberikan kepada pihak keluarga.

"Artinya jika tidak ada fasilitas penyimpanan yang sesuai untuk menangani jenazah di kapal dan jenazah sakit diduga dapat menular ke ABK lainnya serta jarak dan waktu tempuh ke pelabuhan tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam waktu singkat maka sesuai ketentuan yang berlaku dalam ILO Seafarer’s Service Regulation, jenazah tersebut dilarung ke laut," kata Sudiono dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (7/5/2020).

Baca Juga: Menteri Kelautan Bakal Temui ABK WNI yang Selamat di Korsel

Selanjutnya, Sudiono menjelaskan karena yang bersangkutan bekerja di kapal asing, maka aturan yang berlaku pada kapal tersebut adalah peraturan negara bendera kapal tersebut.

Saat ini, kejadian yang terjadi oleh ABK WNI yang bekerja di kapal penangkap ikan berbendera China sudah ditangani oleh Kementerian Luar Negeri dan BNP2TKI serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub terus memonitor kejadian ini.

Sebelumnya, dalam video yang dirilis oleh kanal berita MBC pada Selasa, 5 Mei 2020, disebutkan para ABK Indonesia mendapat perlakuan tak layak di atas kapal penangkap ikan tersebut. Mereka, misalnya, mengeluh tak mendapat air minum layak serta jam kerja memadai. Bahkan, dari video itu nampak seorang ABK kapal melempar jenazaz ABK WNI yang telah meninggal dunia di tengah laut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini