Sri Mulyani dan Erick Thohir Putar Otak Bereskan Utang Garuda Indonesia

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 08 Mei 2020 16:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 08 20 2211126 sri-mulyani-dan-erick-thohir-putar-otak-bereskan-utang-garuda-indonesia-wcKcKRQEUk.jpg Garuda Indonesia (Okezone)

JAKARTA - Kementerian Keuangan sedang memutar otak untuk mencari solusi penyelesaian utang Garuda Indonesia. Mengingat, utang berupa suku global sebesar USD500 juta ini akan jatuh tempo pada Juni mendatang.

Asal tahu saja, sukuk global yang memiliki nama Garuda Indonesia Global Sukuk Limited itu diterbitkan pada 3 Juni 2015 lalu di Singapore Exchange. Garuda menawarkan suku bunga tetap sebesar 3% setiap tahun.

 Baca juga: Ingin Naik Pesawat? Penumpang Harus Tunjukan Surat Keterangan Sehat dan Negatif Corona

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai leadnya. Komunikasi masih terus dilakukan secara intensif mengingat waktu jatuh temponya sudah semakin dekat.

"Lead-nya Kementerian bumn. Kita kerja sama terus. Kita sedang pikirkan beberapa alternatif Insyaallah lewat sukuk misalnya. Kita cari solusi bantu Garuda," ujarnya dalam teleconfrence, Jumat (8/5/2020).

 Baca juga: Garuda Indonesia Mulai Terbang Lagi Hari Ini

Menurut Luky, ada beberapa alternatif yang disiapkan untuk bantu menutupi utang dari maskapai milik BUMN tersebut. Hanya saja, dirinya tidak menyebutkan secara rinci skema seperti apa yang akan digunakan untuk penyelesaian utang Garuda ini.

"Ini memang in progress, proses ini kami bersama-sama dengan Kementerian BUMN sedang memikirkan jalan keluar untuk Garuda," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Garuda Indonesia (Persero) meminta bantuan keuangan dan relaksasi kebijakan dari pemerintah. Apalagi saat ini Garuda tengah berdarah-darah untuk bisa bertahan di tengah pandemi virus corona ini.

Salah satunya adalah meminta bantuan untuk penyelesaian utang. Pasalnya, saat ini perseroan dihadapkan pada utang yang akan jatuh tempo bulan Juni mendatang.

 Baca juga: Garuda Indonesia Buka Reservasi Penerbangan

"Kita relaksasi keuangan, ini punya sedikit masalah, Juni ini jatuh tempo USD500 juta sehingga kita membutuhkan bantuan keuangan dan relaksasi," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra

Saat ini, posisi ekuitas perseoran mencapai USD720,62 juta. Dengan demikian, posisi debt to equity ratio (DER) perseroan mencapai 2,55 kali, dan net debt to equity ratio perseroan mencapai 214% .

Garuda pun tercatat memiliki liabilitas jangka pendek yang cukup besar per akhir 2019, yakni USD3,25 miliar. Kewajiban jangka pendek itu mendominasi total liabilitas perseroan yang mencapai USD3,73 miliar.

Dari jumlah tersebut, USD984,85 juta di antaranya merupakan pinjaman bank.

Pinjaman ini terdiri dari pinjaman bank terafiliasi sebanyak USD540,09 juta dan USD444,75 juta kepada bank pihak ketiga. Salah satu utang yang jatuh tempo dalam waktu dekat yakni sukuk global yang terbit pada 2017 senilai USD500 juta pada 3 Juni 2020.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini