Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fakta Industri Penerbangan, Alami Situasi Terburuk dalam 100 Tahun Terakhir

Taufik Fajar , Jurnalis-Minggu, 17 Mei 2020 |06:12 WIB
Fakta Industri Penerbangan, Alami Situasi Terburuk dalam 100 Tahun Terakhir
Dampak Covid-19 pada Industri Penerbangan. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

JAKARTA - Industri penerbangan mengalami turbulensi akibat pandemi virus corona. Mulai dari maskapai sampai industri turunan seperti katering makan terkena imbasnya.

Malahan, sejak maskapai tidak beroperai membuat katering makanan harus menurunkan produksinya hingga 97%. Karena itu, saat ini banyak perusahaan terkait penerbangan mulai melakukan efisiensi hingga merumahkan para pekerjannya.

Okezone pun merangkum fakta-fakta terkait industri penerbangan di tengah pandemi virus corona, Minggu (17/5/2020):

1. Situasi Terburuk dalam 100 Tahun

British Airways menghadapi situasi terburuk dalam 100 tahun sejarah kiprah emasnya di industri penerbangan. Maskapai tersebut akan memangkas hingga 12.000 pekerjaan dari 42.000 tenaga kerjanya.

Perusahaan induk maskapai itu, IAG, mengatakan perlu melakukan "program restrukturisasi dan redundansi" sampai permintaan perjalanan udara kembali seperti tahun 2019.

"Proposal (solusi) tetap mengikuti hasil konsultasi, tetapi kemungkinan akan mempengaruhi sebagian besar karyawan British Airways dan dapat mengakibatkan pengurangan hingga 12.000 dari mereka," demikian pernyataan IAG, seperti dikutip BBC.

2. Nasib Pilot hingga Karyawan British Airways

Setidaknya 23.000 staf sudah menjalankan masa dirumahkan sebagai imbas pandemi Covid-19. Tercatat total karyawan British Airways mencapai 42.000 dan 12.000 di antaranya dibayangi PHK.

Serikat Pilot Balpa mengatakan, pihaknya sangat terpukul melihat situasi tersebut dan tidak setuju jika terjadi PHK.

Sekretaris Jenderal Balpa Brian Strutton mengatakan, situsi pahit ini datang secara tiba-tiba. Padahal, lanjutnya maskapai penerbangan ini cukup kaya untuk menghadapi badai Covid.

3. Maskapai Tertua Ajukan Kebangkrutan

Maskapai penerbangan nasional Kolombia, Avianca mengajukan perlindungan kebangkrutan di pengadilan Amerika Serikat (AS). Hal ini dikarenakan tekanan dari wabah virus Corona atau Covid-19.

maskapai tertua kedua di dunia ini telah menutup operasinya sejak Maret 2020. Virus Corona telah memotong dari 80% pendapatannya, dan sedang berjuang menghadapi biaya tetap yang tinggi.

Nantinya, jika kebangkrutan dikabulkan, Avianca akan menjadi maskapai besar pertama yang mengalami kejatuhan di tengah pandemik.

4. Produksi Katering Pesawat Turun 97%

Direktur Utama PT Aerofood Indonesia Sis Handaya Aziz mengungkapkan, dampak wabah Covid-19 bagi Aerofood ACS sungguh berat. Apalagi saat penerbangan komersil dilarang beroperasi, membuat penjualan makanan semakin menurun.

"Dari data seperti sales Aerofood ACS 70% masih dari inflight food services, selebihnya 30% dari industrial Catering. Sehingga berdampak sangat serius terhadap Aerofood," ujarnya saat dihubungi Okezone.

"Penurunan revenue akibat drop produksi ACS sebesar 97% dan ini diakibatkan turunnya penerbangan Garuda maupun Non Garuda (foreign airlines) sampai sebesar 90%," ujarnya.

5. Minta Bantuan Pemerintah

Direktur Utama PT Aerofood Indonesia Sis Handaya Aziz mengatakan, ACS sudah mengajukan permintaan insentif pajak kepada pemerintah pusat. Hal ini untuk meringankan beban keuangan di tengah turunnya produksi hingga 97%.

"Kita ajukan baik ke pemerintah pusat dengan subject insentif pajak seperti PPN, PPh termasuk penghapusan sanksi atau bunga," ujarnya saat dihubungi Okezone.

Selain ke pemerintah pusat, Aerofood juga mengajukan keringanan kepada pemerintah daerah Kota Tangerang berupa pajak restoran (PB1).

(Feby Novalius)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement