Share

Mengenal Perovskite, Mineral Baru Sumber Energi Listrik Masa Depan

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 18 Mei 2020 12:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 320 2215810 mengenal-perovskite-mineral-baru-sumber-energi-listrik-masa-depan-ij8A9Zvpay.jpg Pembangkit Listrik Tenaga Surya. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Mineral perovskite dinilai mampu menjawab masalah krisis energi terutama bagi negara-negara tropis, seperti Indonesia. Apalagi saat ini konsumsi energy meningkat di tengah menipisnya cadangan energy fosil.

Mineral perovskite mampu dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pemanfaatan pembangkit berbasis tenaga surya. Perovskite memiliki tingkat efisiensi penyerapan matahari maupun fleksibilitas biaya dibandingkan panel photo voltaic (PV) yang berbasis kristal silikon.

Baca Juga: Cara Dapatkan Listrik Gratis dengan Akses Website PLN

"Ada kelemahan utama dari Silicon PV panel, yaitu sangat tidak efisien, pencapaian efisiensinya hanya sekitar 7%-16% saja, dan tergantung kepada orientasi penempatan serta kondisi cuaca. Panel Silikon dibuat relatif tebal dan berlapis, tidak seperti film yang tipis, sehingga bisa lebih kuat dan tahan lama, namun di sisi lain harus mengorbankan efisiensinya," kata Direktur Utama PT Pertamina EP Nanang Adbul Manaf, dalam keterangan Kementerian ESDM, Senin (18/5/2020).

Penemuan perovskite, sambung Nanang, dapat menjanjikan hasil yang lebih baik sehingga bisa menjadi andalan yang dapat mengalahkan atap panel dari sisi efisiensi.

Baca Juga: Cara Dapat Listrik Gratis Lewat WhatsApp, Tinggal Masukkan ID Pelanggan

"Panel-panel dengan lapisan-lapisan film tipis Perovskite dapat menyerap cahaya dari panjang gelombang yang kisarannya sangat lebar dan lebih produktif menghasilkan listrik dibanding silikon PV panel," ungkapnya.

Riset terbaru yang dilakukan oleh Universitas Oxford di 2018 menunjukkan, tingkat efisiensi pemanfaatan perovskite hingga menyentuh angka 25% bahkan pada bulan Desember 2018 bisa mencapai 28%. Hingga saat ini, para saintis terus mengembangkan riset tersebut untuk dikomersilkan secara masal sejak diteliti pada tahun 2012.

Pemanfaatan matahari di Indonesia sebagai sumber energi dinilai Nanang sebagai langkah yang tepat. Hal ini mempertimbangkan sifat matahari sebagai sumber energi yang tidak terbatas.

"Setiap jam, matahari memberikan energi sebesar 430 quintillion (10 pangkat 18) Joules dan lebih dari 410 quintillion (10 pangkat 18) Joules telah dikonsumsi sepanjang tahun," terangnya.

Menurut International Energy Agency (IEA), tenaga surya telah menyuplai sekitar 592 Giga Watt atau hanya sekitar 2,2% saja dari pemakaian tenaga listrik dunia sebesar 26,571 Giga Watt di tahun 2018. Setelah maraknya pemasangan Photovoltaic (PV), maka pemakaian tenaga surya meningkat menjadi 100 Giga Watt atau 20% dari pemakaian listrik dunia. Lebih dari 90% pemasangan panel photovoltaic (PV) dibuat dari Kristal silicon.

Hal ini sejalan dengan semakin kompetitifnya rata-rata harga listrik pembangkit tenaga surya. Berdasarkan laporan International Renewable Energy Agency (IRENA), pembangkit tenaga surya sudah sangat kompetitif dibandingkan pembangkit dari energi fosil, seperti dari minyak, gas dan batubara, dengan rata-rata harga listrik turun sekitar 75% atau dibawah 10 cent USD/KWh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini