nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketika Jakarta yang Akan Jadi Acuan Penerapan New Normal

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 22 Mei 2020 08:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 05 22 470 2217779 ketika-jakarta-yang-akan-jadi-acuan-penerapan-new-normal-08ZAl9NGr6.jpg DKI Jakarta (Foto: Okezone)

JAKARTA - Provinsi DKI Jakarta berpeluang untuk dijadikan daerah percontohan penyesuaian Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan penerapan new normal Covid-19.

Hal ini disampaikan Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Hal itu dikarenakan dalam rangka persiapan untuk menghadapi new normal akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

"Jadi, kami akan gunakan Jakarta sebagai benchmark (tolak ukur PSBB)," ujar Suharso.

Baca Juga: Pengusaha: New Normal Ubah Tren Bisnis dan Sosial 

Suharso menegaskan, dalam penerapan penyesuaian PSBB, pemerintah akan merujuk pada pedoman yang digulirkan organisasi kesehatan dunia (WHO) terkait pandemi Covid-19. "Selain itu, pemerintah juga akan menggunakan hitungan yang cermat dan tepat untuk menentukan kebijakan tersebut," katanya.

Menurutnya, alasan dipilihnya DKI Jakarta sebagai percontohan new normal didasari dengan statistik angka reproduksi efektif (Rt) virus corona yang telah berada lebih kecil dari level 1. Adapun penyesuaian PSBB bisa dilakukan saat kondisi di wilayah tersebut dapat bertahan paling sedikit 14 hari.

"Kita semua berharap bisa menekan angka Rt itu lebih kecil dari angka satu selama 14 hari, apabila kita ingin lakukan pelonggaran PSBB," katanya.

Baca Juga: Jangan Salah soal New Normal dengan Kembali ke Normal 

Lanjut Suharso mengatakan, sistem kesehatan yang ada di Ibu Kota juga dinilai telah memadai. Apalagi jika dibandingkan dengan jumlah kasus baru yang memerlukan perawatan di rumah sakit angkanya lebih kecil.

"Indikator lain yang menerangkan jika DKI Jakarta dapat diterapkan penyesuaian PSBB karena kapasitas tes laboratorium yang mencukupi dan memiliki strategi tes yang jelas. Pengetesan setidaknya harus mencapai 3.500 tes per satu juta penduduk. Dan sudah di atas Thailand atau Malaysia, separuh lebih dari tes nasional ada di Jakarta," jelas dia.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini