Bappenas Sebut Covid-19 Masuki Masa Kritis saat Lebaran, Salat Id hingga Silaturahmi

Wilda Fajriah, Jurnalis · Sabtu 23 Mei 2020 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 23 320 2218550 bappenas-sebut-covid-19-masuki-masa-kritis-saat-lebaran-salat-id-hingga-silaturahmi-42WLz6kXyp.jpg Penanganan Virus Corona. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menyebut beberapa minggu ke depan merupakan masa kritis yang berpotensi dapat meningkatkan penyebaran kasus Covid-19. Sebab, memasuki masa Idul Fitri, Sholat Id berjamaah, berkumpulnya masyarakat untuk silaturahmi, dan potensi arus mudik juga arus balik.

“Ini hal penting perlu menjadi perhatian bersama,” tegas Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Baca Juga: Syarat New Normal Tetap Produktif dan Aman dari Covid-19

Selain itu, yang menjadi perhatian juga terkait penerapan disiplin tinggi dalam implementasi protokol kesehatan Covid-19 seperti hidup bersih dan sehat (cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer dan penggunaan masker), physical distancing, pelaporan kasus secara mandiri, dan kontrol sosial. Lalu, proses adaptasi dengan kehidupan normal baru, terutama perubahan kebijakan dan aturan sesuai perkembangan Covid-19, optimalisasi teknologi digital, dan pelaksanaan protokol Covid-19 secara konsisten.

Ke depannya, kata Suharso, Kementerian PPN/Bappenas berencana meluncurkan Dashboard Angka Reproduksi Efektif atau Rt yang diperbaharui secara harian untuk memantau perkembangan kasus sehingga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi berkala terkait efektivitas pelaksanaan kebijakan Covid-19.

Baca Juga: Lawan Covid-19, Bappenas: Hanya 33% Puskesmas Penuhi Syarat Layanan Kesehatan

Sementara itu, untuk penyesuaian PSBB, Bappenas menilai harus ada tiga kriteria yang wajib dipenuhi. Kriteria pertama dan menjadi syarat mutlak adalah epidemiologi, yaitu angka reproduksi efektif atau Rt<1 selama dua minggu berturut-turut. Artinya, angka kasus baru telah menurun setidaknya selama dua minggu berturut-turut.

Kriteria kedua adalah kapasitas sistem pelayanan kesehatan yang mensyaratkan kapasitas maksimal tempat tidur rumah sakit dan instalasi gawat darurat untuk perawatan Covid-19 lebih besar dari jumlah kasus baru yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Kriteria ketiga adalah surveilans, artinya kapasitas tes swab yang cukup. (fbn)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini