Erick Thohir Sebut Hanya 10% Kinerja Perusahaan BUMN Tahan Covid-19

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 26 Mei 2020 19:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 26 320 2219943 erick-thohir-sebut-hanya-10-kinerja-perusahaan-bumn-tahan-covid-19-TvrdggHgyN.jpg Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pandemi virus corona yang sudah ada di Indonesia sejak awal Maret sudah mengganggu kinerja beberapa perusahaan di tanah air. Tak terkecuali juga perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, dampak virus corona kepada kinerja perusahaan BUMN sangat besar. Hal tersebut dibuktikan dengan data yang menyebutkan 90% perusahaan BUMN yang terkena dampak dari virus corona.

 Baca juga: New Normal Versi Erick Thohir untuk Perusahaan BUMN

Menurut Erick, hanya beberapa perusahaan BUMN saja yang justru mendapatkan keuntungan dari adanya virus corona. Beberapa perusahaan BUMN tersebut yang bergerak di sektor telekomunikasi, farmasi dan perkebunan yang berhubungan dengan bahan pangan.

"Sebanyak 90% BUMN terkena COVID-19, hanya 10% yang bertahan," ujarya, Selasa (26/5/2020).

Beberapa perusahaan BUMN pun terpaksa harus memutar otak agar bisa tetap bertahan ditengah hantaman virus corona ini. Misalnya dengan melakukan efesiensi para anggaran operasionalnya.

 Baca juga: Tahap Pertama New Normal, Erick Thohir Latih BUMN agar Tak Blunder

Ke depan lanjut Erick, pihaknya juga akan melakukan perampingan pada perusahaan BUMN dari 27 klaster BUMN menjadi 12 klaster. Hal ini dilakukan agar perusahaan BUMN tetap fokus pada inti bisnisnya.

"Kita menyiapkan peta jalan ketahanan energi, pangan, kesehatan. Nanti ada 12 klaster, tidak 27 klaster. Misal, BUMN farmasi dan rumah sakit menjadi satu kluster, BUMN semen dengan karya juga akan menjadi kluster supaya sesuai supply chain-nya (rantai pasok)," jelasnya

Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan protokol untuk mengahadapi situasi new normal akibat virus corona. Meskipun, dala penerapan New Normal ini juga harus dilakukan dengan sistem trial dan error karena tidak mungkin langsung sempurna dan cocok di masyarakat.

"Struktur yang ada di sistem kita juga akan berubah, ini harus trial dan error. Kan tidak ada yang sempurna. Yang namanya protokol harus diuji coba dulu, mana yang bagus, mana yang kurang. Ini memang nggak mudah dijabarkan tapi harus dilakukan," kata Erick.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini