Bruegel Simone Tagliapietra, peneliti di lembaga kajian European Economic Think Thank, mengatakan, meskipun lockdown mulai longgar, konsumen juga membelanjakan lebih sedikit uang mereka.
“Data yang baru saja dirilis oleh Bank Sentral Eropa menunjukkan bahwa tabungan di Eropa pada bulan Maret jauh melampaui tingkat rata-rata tabungan dalam beberapa tahun terakhir. Orang-orang hanya menabung, menyisihkan uang. Mereka tidak tahu apakah gelombang kedua penularan virus corona akan datang. Mereka tidak yakin tentang keamanan pekerjaan mereka. Jadi, mereka tidak membelanjakan uang mereka,” tukasnya.
Sebuah survei yang dilakukan oleh SMEunited, sebuah lembaga payung untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di Eropa, menunjukkan bahwa separuh dari bisnis-bisnis tersebut kehilangan 50 persen pendapatan. Jumlah itu naik hingga 80 persen di negara-negara yang lebih parah terkena pandemi virus corona, seperti Italia dan Spanyol.
Sekretaris Jenderal SMEunited, Veronica Willems, mengatakan bisnis sangat kreatif selama berlangsung lockdown karena virus corona, agar tetap bisa bertahan, tetapi masih membutuhkan dukungan.
Uni Eropa kini memperdebatkan rencana dana pemulihan ekonomi besar-besaran yang mencakup hibah, pinjaman, dan jaminan yang bisa berjumlah lebih dari USD2 triliun. Prancis dan Jerman menyampaikan rencana masing-masing minggu lalu.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.