Usai Karantina Covid-19, Bisnis di Eropa Kerja Lembur

Rabu 27 Mei 2020 12:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 27 320 2220242 usai-karantina-covid-19-bisnis-di-eropa-kerja-lembur-89anAskvFh.jpg Ritel (reuters)

JAKARTA - Toko-toko, salon kecantikan, dan tempat-tempat lain dibuka kembali di seluruh Eropa. Para pemilik bisnis bekerja lembur untuk memastikan mereka akan meraup pendapatan yang hilang setelah dua bulan tutup karena virus corona.

Namun di balik lembur tersebut, hanya sedikit yang percaya bahwa lonjakan itu menandakan bisnis berkembang pesat. Contohnya saja Wil Wolvers.

 Baca juga: Imbas Corona, Mal Ini Tak Bayar Pinjaman 2 Bulan Sebesar Rp20,5 Triliun

Wils Wolvers merupakan salon yang berada di luar Den Haag telah beroperasi selama 14 tahun terakhir. Pasca karantina mendapat 1.500 pemesanan setelah ditutup selama dua bulan. Mereka pun bekerja tanpa henti untuk bisa melayani pelanggan.

“Kami harus memasang pemisah di antara unit-unit ruang cuci rambut supaya bisa mencuci rambut pelanggan, dan kalau tidak mereka akan duduk bersebelahan. Dan, di antara tempat-tempat di mana kami memotong dan mewarnai rambut, kami juga memasang tabir pemisah. Biasanya kami dapat melayani lima atau enam orang sekaligus, tapi kini kami bisa melakukan hanya separuhnya. Jadi, itu sebabnya kami buka selama tujuh hari seminggu, termasuk malam hari,” paparnya mengutip VoA Indonesia, Jakarta, Rabu (27/5/2020).

 Baca juga: Sepi Orang Belanja, Kontribusi Pakaian ke Inflasi 0%

Wolvers senang bisnisnya akan ramai dalam beberapa waktu mendatang. Tetapi ragu bahwa membanjirnya pelanggan akan dapat menebus hilangnya pendapatan ketika salon ditutup.

Uang bantuan pemerintah bisa membantu bisnisnya untuk membayar gaji karyawan selama berlangsung lockdown atau karantina wilayah, tetapi dia masih harus menggunakan sebagian tabungannya untuk biaya tetap, seperti asuransi dan hipotek.

Di seluruh Eropa, toko-toko dan restoran telah buka atau bersiap untuk buka kembali. Restoran-restoran mendapat banyak pesanan dan orang-orang mengantre untuk memasuki toko-toko non-esensial. Tetapi, berlakunya protokol jaga jarak sosial berarti bisnis hanya dapat beroperasi di bawah kapasitas normal.

Bisnis kecil dan menengah merupakan 99 persen dari semua perusahaan di Uni Eropa. Seluruhnya ada 25 juta, dan usaha-usaha kecil dan menengah itu mempekerjakan lebih dari dua pertiga tenaga kerja Uni Eropa. Usaha-usaha itu adalah tulang punggung ekonomi Uni Eropa, tetapi juga yang paling rentan terhadap guncangan eksternal seperti pandemi.

Bruegel Simone Tagliapietra, peneliti di lembaga kajian European Economic Think Thank, mengatakan, meskipun lockdown mulai longgar, konsumen juga membelanjakan lebih sedikit uang mereka.

“Data yang baru saja dirilis oleh Bank Sentral Eropa menunjukkan bahwa tabungan di Eropa pada bulan Maret jauh melampaui tingkat rata-rata tabungan dalam beberapa tahun terakhir. Orang-orang hanya menabung, menyisihkan uang. Mereka tidak tahu apakah gelombang kedua penularan virus corona akan datang. Mereka tidak yakin tentang keamanan pekerjaan mereka. Jadi, mereka tidak membelanjakan uang mereka,” tukasnya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh SMEunited, sebuah lembaga payung untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di Eropa, menunjukkan bahwa separuh dari bisnis-bisnis tersebut kehilangan 50 persen pendapatan. Jumlah itu naik hingga 80 persen di negara-negara yang lebih parah terkena pandemi virus corona, seperti Italia dan Spanyol.

Sekretaris Jenderal SMEunited, Veronica Willems, mengatakan bisnis sangat kreatif selama berlangsung lockdown karena virus corona, agar tetap bisa bertahan, tetapi masih membutuhkan dukungan.

Uni Eropa kini memperdebatkan rencana dana pemulihan ekonomi besar-besaran yang mencakup hibah, pinjaman, dan jaminan yang bisa berjumlah lebih dari USD2 triliun. Prancis dan Jerman menyampaikan rencana masing-masing minggu lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini