Soal Pilihan Kesehatan atau Ekonomi, Sri Mulyani: Jaga Keseimbangan Keduanya

Wilda Fajriah, Jurnalis · Minggu 31 Mei 2020 19:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 31 20 2222506 soal-pilihan-kesehatan-atau-ekonomi-sri-mulyani-jaga-keseimbangan-keduanya-UIGOotQ944.jpg Sri Mulyani (Okezone)

JAKARTA - Wabah virus Corona atau Covid-19 telah menyebabkan krisis kesehatan. Krisis tersebut telah menyerang kesehatan manusia serta sosial ekonomi.

Sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani sering mendapatkan pertanyaan mengenai mana yang harus didahulukan. Di mana, pilihan tersebut antara kesehatan atau ekonomi.

 Baca juga: Sebelum Vaksin Corona Ditemukan, Menko Airlangga: Ubah Cara Kerja

Dirinya mengatakan, keduanya sama pentingnya dan harus berjalan bersama. Pandangan yang seolah-olah mendahulukan ekonomi sehingga buru-buru dilakukan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah tidak benar.

"Saya menjelaskan usaha Pemerintah menjaga keseimbangan keduanya," ujarnya mengutip akun Instagram @SMIndrawati, Jakarta, Minggu (31/5/2020).

Dirinya mengatakan, sejak bulan Maret 2020, melalui PSBB Pemerintah melakukan langkah untuk memprioritaskan kesehatan dengan terlebih dahulu merelokasikan anggaran untuk sarana dan fasilitas kesehatan bagi tenaga medis, tenaga kesehatan, serta masyarakat langsung. Langkah-langkah pencegahan secara masif dilakukan dari tingkat pusat sampai level terkecil di desa-desa.

 Baca juga: Vaksin Covid-19 Diprediksi Ditemukan 2021, New Normal Jadi Solusi?

"Percepatan juga terlihat dari jumlah laboratorium penanganan Covid-19 yang bertambah signifikan mulai dari hanya satu laboratorium di bulan Maret, hingga kini telah berjumlah lebih dari 100 laboratorium untuk rapid test dan Polymerase Chain Reaction (PCR)," ujarnya.

Pemerintah mengikuti standar WHO dalam melakukan pelonggaran PSBB yaitu jika angka Rt (Reproduksi Efektif) di bawah 1 selama 14 hari, maka dapat dilakukan pelonggaran PSBB. "Berdasarkan zonasi, terdapat sekitar 220 daerah yang masuk zona hijau (daerah yang terkena COVID-19 sangat sedikit, Rt 0, atau tidak ada perkembangan yang mengkhawatirkan) sehingga tidak mestinya diatur sebagaimana zona merah," ujarnya.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini